SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dangdeur 08 Kabupaten Subang kembali dipercaya menjadi bagian dari upaya penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kali ini, dapur MBG tersebut menjadi lokasi sampling dan asesmen awal yang dilakukan oleh Nutrition International dalam rangka penyusunan peta jalan integrasi beras fortifikasi pada Program MBG.
Kegiatan survei tersebut dilaksanakan oleh tim Nutrition International yang terdiri dari Eni Asri Sutanto selaku staf provinsi serta Triko dan Naela sebagai staf nasional. Dalam kunjungannya, tim melakukan asesmen dan pengisian kuesioner terkait sistem pengadaan, penyimpanan, pengolahan beras, hingga proses distribusi makanan yang selama ini dijalankan oleh SPPG Dangdeur 08.
Survei ini bertujuan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai operasional dapur MBG di tingkat SPPG. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan strategi penerapan beras fortifikasi pada Program Makan Bergizi Gratis di masa mendatang.
Beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan berbagai mikronutrien penting guna meningkatkan kualitas gizi masyarakat tanpa mengubah rasa, aroma, maupun pola konsumsi sehari-hari. Program ini dinilai sebagai salah satu langkah strategis untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.
Menariknya, SPPG Dangdeur 08 menjadi lokasi pertama yang dipilih untuk pelaksanaan pre-test instrumen pemetaan sebelum implementasi pilot project beras fortifikasi dilakukan di sejumlah SPPG terpilih lainnya di Kabupaten Subang.
Kepala SPPG Dangdeur 08, Riko Bangun, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada pihaknya untuk terlibat dalam proses pengembangan Program MBG.
“Kami sangat bersyukur karena SPPG Dangdeur 08 terus dipercaya menjadi bagian dari berbagai upaya peningkatan kualitas Program Makan Bergizi Gratis. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan kepada para penerima manfaat,” ujar Riko.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam proses evaluasi dan pengembangan program akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pelaksanaan MBG ke depan.
“Semakin banyak pihak yang terlibat, maka program ini akan semakin baik. Sebelumnya kami juga telah menerima kunjungan dan survei dari berbagai instansi pemerintah maupun aparat penegak hukum. Kini ada keterlibatan organisasi internasional seperti Nutrition International. Ini menunjukkan adanya komitmen bersama untuk memastikan Program MBG berjalan optimal,” tambahnya.
Nutrition International sendiri merupakan organisasi nutrisi global yang berbasis di Ottawa, Kanada. Sejak 2006, lembaga tersebut telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam berbagai program peningkatan gizi, khususnya bagi kelompok rentan seperti perempuan, bayi, balita, dan remaja.
Melalui berbagai program bantuan teknis, advokasi kebijakan, suplementasi mikronutrien, edukasi gizi, hingga fortifikasi pangan berskala besar, organisasi tersebut berupaya mendukung peningkatan status gizi masyarakat Indonesia.
Integrasi beras fortifikasi dalam Program Makan Bergizi Gratis dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas asupan gizi penerima manfaat tanpa harus mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat. Karena itu, kegiatan pemetaan yang dilakukan di SPPG Dangdeur 08 diharapkan menjadi langkah awal penting dalam penyusunan kebijakan dan implementasi beras fortifikasi pada Program MBG di masa mendatang.
Dengan dukungan berbagai pihak, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan terus berkembang menjadi program yang semakin berkualitas, tepat sasaran, serta mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan gizi masyarakat.





