JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan lonjakan harga cabai rawit menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026 bukan disebabkan oleh kekurangan pasokan. Ia menilai kenaikan harga lebih dipicu gangguan distribusi akibat curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 13 Februari 2026, rata-rata harga cabai rawit secara nasional mencapai Rp73.609 per kilogram.
Menurut Budi, dari sisi produksi, stok cabai rawit sebenarnya dalam kondisi aman. Namun, intensitas hujan yang terus-menerus membuat proses pengiriman dari sentra produksi ke pasar mengalami hambatan sehingga memengaruhi pergerakan harga di sejumlah daerah.
“Kami telah berkoordinasi dengan asosiasi petani. Secara produksi, ketersediaan sebenarnya mencukupi. Namun, curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus menyebabkan distribusi terganggu sehingga berdampak pada pergerakan harga,” ujarnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, seperti yang dimuat dari laman KOMPAS.tv, Rabu (18/2/2026).
Ia menambahkan, pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan terus melakukan pemantauan guna memastikan distribusi tetap lancar, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idulfitri.
“Jika ada kenaikan harga di wilayah tertentu, kami telusuri penyebabnya, baik karena distribusi maupun peningkatan permintaan,” tegasnya, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Perdagangan.
Kementerian Perdagangan optimistis, melalui koordinasi dengan asosiasi petani dan penguatan jalur distribusi, harga cabai rawit dapat kembali stabil sehingga tidak memberatkan masyarakat selama bulan Ramadan.
