JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Pembekuan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya resmi dicabut. Keputusan ini disampaikan oleh Dekan FISIP Unair, Prof. Bagong Suyanto, setelah melakukan pertemuan dengan Presiden BEM FISIP Unair, Tuffahati Ullayyah Bachtiar.
Dalam pernyataannya, Bagong mengungkapkan, “Kami sudah bertemu dan berbicara dari hati ke hati, intinya detik ini juga dekanat akan mencabut SK pembekuan kepengurusan BEM FISIP Unair.” Pertemuan tersebut diadakan untuk mendiskusikan langkah ke depan bagi BEM FISIP setelah insiden yang menyebabkan pembekuan tersebut.
Tindakan pembekuan sebelumnya diambil karena pengurus BEM FISIP menggunakan diksi yang dianggap tidak pantas, seperti ‘bajingan’, dalam sebuah karangan bunga yang ditujukan kepada Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Bagong menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik dan pendapat di ranah akademik. Ia mengatakan, “Kami tidak ingin mengembangkan kultur yang terbiasa menggunakan diksi yang kasar dalam kehidupan politik.”
Meskipun ada kritik yang disampaikan oleh BEM FISIP, Bagong menyatakan bahwa dekanat memahami substansi dari aspirasi yang diungkapkan. Namun, ia berharap agar kritik tersebut disampaikan dengan cara yang lebih beretika. “Kami memberi kebebasan pada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi sosial politiknya, asalkan dilakukan dengan tanggung jawab dan tidak keluar dari etika akademik,” tambahnya.
Di sisi lain, Presiden BEM FISIP, Tuffahati Ullayyah Bachtiar, mengonfirmasi bahwa pembekuan tersebut telah dicabut dan ia menerima tanggung jawab atas isi karangan bunga yang dipasang bersama pengurus Kementerian Politik dan Kajian Strategis BEM FISIP. Tuffa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moral kepada mereka.
“Kami bertekad untuk tetap kritis dan berani dalam memilih diksi, sambil tetap menghormati koridor akademik,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan komitmen BEM FISIP untuk terus menyuarakan pendapat dan kritik yang konstruktif kepada pemerintah tanpa melanggar etika akademik.
Keputusan pencabutan pembekuan ini tidak hanya menjadi momen penting bagi BEM FISIP, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya menjaga etika dan integritas dalam menyampaikan kritik, terutama di kalangan mahasiswa dan akademisi.
Sumber: CNN Indonesia





