Megapolitan

Serukan Persatuan di Hari Raya, Presiden Iran Bantah Berselisih Meski Sempat Serang Negara Tetangga

×

Serukan Persatuan di Hari Raya, Presiden Iran Bantah Berselisih Meski Sempat Serang Negara Tetangga

Sebarkan artikel ini
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada 25 September 2025. (Sumber: AP Photo/Angelina Katsanis, File)

TEHERAN, TINTAHIJAU.com – Momen perayaan Idulfitri 2026 dimanfaatkan oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia Islam dan negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Teheran sama sekali tidak memendam permusuhan dengan negara-negara di sekitarnya.

Pesan tersebut disampaikan oleh Pezeshkian melalui akun media sosial X pada hari Sabtu (21/3). Ia menggarisbawahi bahwa setiap perpecahan yang terjadi di antara negara-negara kawasan hanya akan memberikan keuntungan bagi pihak Israel.

“Untuk negara-negara Islam dan tetangga kami, kalian adalah saudara kami dan kami tidak berselisih dengan kalian. Satu-satunya yang diuntungkan dari perbedaan kita hanyalah entitas Zionis,” kata Pezeshkian, Sabtu (21/3/2026).

Ia kemudian menambahkan, “Kami meminta Allah di hari Idulfitri ini untuk memberi kami kekuatan dan persatuan dengan bertindak sesuai ajaran Rasulullah untuk mencapai ridha-Nya.”

Pernyataan bernada damai ini muncul sebagai sebuah kontras di tengah memburuknya hubungan Teheran dengan sejumlah negara Arab baru-baru ini. Pesan tersebut dilontarkan tak lama setelah Iran melakukan serangkaian serangan yang menyasar fasilitas energi di Teluk Arab serta pangkalan militer Amerika Serikat (AS).

Aksi militer Iran yang berlangsung pada Rabu (18/3) lalu itu merupakan langkah balasan atas gempuran Israel yang menargetkan ladang gas Pars Selatan milik Iran. Dalam serangan balasan tersebut, rudal-rudal balistik Iran dilaporkan menghantam sejumlah pusat industri dan energi di wilayah Qatar dan Arab Saudi.

Insiden ini sontak memicu reaksi negatif dari negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Arab Saudi, secara khusus, merespons dengan peringatan tajam kepada Teheran, menekankan bahwa kesabaran mereka ada batasnya dan Riyadh memiliki kekuatan penuh untuk melancarkan serangan balasan.