SUBANG, TINTAHIJAU.COM- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi, mengungkapkan bahwa hingga triwulan pertama tahun ini, terdapat empat jenis penyakit yang paling banyak dikeluhkan warga Subang.
Keempat penyakit tersebut adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), chikungunya, tifoid (tipes), dan infeksi saluran pernapasan (ISPA).
“Keempat penyakit ini mayoritas disebabkan oleh faktor lingkungan. Ini menunjukkan bahwa kondisi sanitasi, kebersihan, dan pengendalian vektor di lingkungan masih perlu ditingkatkan,” ujar dr. Maxi.
Dari keempatnya, kasus chikungunya menempati posisi tertinggi dengan 271 kasus suspek, dan 34 di antaranya sudah terkonfirmasi positif. Sedangkan DBD tercatat sebanyak 170 kasus hingga Maret 2025, angka yang menurut dr. Maxi masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“DBD saat ini cenderung menurun, namun chikungunya justru mulai menunjukkan peningkatan. Padahal penularannya mirip, melalui gigitan nyamuk Aedes yang berkembang di rumah maupun kebun,” jelasnya.
Sementara itu, tifoid dan ISPA juga tercatat cukup tinggi, terutama pada anak-anak dan masyarakat di wilayah padat penduduk. Dua penyakit ini umumnya berkaitan dengan kualitas air, makanan, serta paparan udara yang buruk.
Dalam menghadapi lonjakan penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Subang menekankan pentingnya pendekatan preventif dan sistematis, terutama dalam mengatasi penyakit berbasis vektor seperti DBD dan chikungunya.
Dr. Maxi menjelaskan bahwa masyarakat sering kali mengira fogging (pengasapan) adalah solusi utama, padahal justru menjadi langkah terakhir dalam penanganan. Langkah pertama dan utama adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidasi menggunakan abate untuk membasmi telur-telur nyamuk.
Fogging dilakukan hanya setelah melalui prosedur ketat. Setelah ada laporan dari masyarakat, tim Dinas Kesehatan akan melakukan pengecekan ke lingkungan sekitar dengan radius 20 rumah dari titik laporan. Jika ditemukan bahwa lebih dari 20 persen rumah terdapat jentik nyamuk dan ada penderita positif, baru dilakukan fogging.
“Tidak bisa sembarangan minta fogging. Harus sesuai alur. Kalau asal semprot, efeknya bisa buruk, nyamuk jadi kebal terhadap insektisida. Jadi kita tetap kedepankan edukasi dan pengendalian mandiri,” tegas dr. Maxi.
Dinas Kesehatan Subang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan. Langkah sederhana seperti menguras bak mandi, menutup tempat air, mengubur barang bekas, serta menghindari genangan air sangat penting dalam mencegah penyebaran nyamuk Aedes.
“Empat penyakit ini bisa dicegah kalau masyarakat sadar. Kami terus edukasi warga lewat puskesmas, posyandu, dan kader kesehatan agar upaya pencegahan bisa jalan dari rumah,” tutupnya.
Dengan meningkatnya kasus-kasus penyakit berbasis lingkungan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan agar Subang bisa menghadapi musim pancaroba dengan lebih tangguh.




