SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Potret buram dunia pendidikan kembali terjadi di wilayah Jawa Barat. Sebuah video dokumenter berdurasi 3 menit 49 detik yang diunggah oleh akun ERskyvlogger mendadak viral dan memicu perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Video tersebut menyoroti kondisi fisik bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tanjungrasa, yang berlokasi di Kampung Tanjungrasa Kidul, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang dinilai sudah sangat tidak layak dan membahayakan keselamatan siswa.
Sejak diunggah, video tersebut langsung memanen gelombang respons negatif dan keprihatinan mendalam dari netizen. Banyak pihak yang menyayangkan bagaimana fasilitas pendidikan di daerah yang memiliki akses jalan bagus dan dekat dengan pemukiman warga bisa luput dari perhatian pemerintah. Warganet pun beramai-ramai mendesak agar Dinas Pendidikan serta Pemerintah Kabupaten Subang segera turun tangan melakukan langkah perbaikan nyata.
Kondisi Ruang Kelas yang Menantang Bahaya
Berdasarkan pantauan visual di lapangan, sekolah yang menampung ratusan murid ini mengalami kerusakan struktural yang sangat parah. Di beberapa ruang kelas, kaca-kaca jendela sudah lama pecah dan hilang tanpa ada penggantian.
Jauh yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi langit-langit kelas; atap plafon tampak telah jebol total dan sebagian besar hancur, menyisakan struktur rangka baja ringan dan genteng yang langsung terlihat dari dalam kelas.
”Kebayang jika hujan turun, dengan kondisi tempat belajar seperti ini. Namun, meskipun kondisinya demikian, semangat belajar para siswa dan dedikasi para guru tidak pernah padam,” tulis keterangan dalam video viral tersebut.
Ketiadaan daun pintu dan dinding yang mulai retak-retak berlumut kian menambah kesan bahwa bangunan ini telah lama terbengkalai. Para guru dan murid dihantui rasa was-was setiap harinya, sebab material atap atau sisa-sisa plafon bisa saja runtuh sewaktu-waktu dan menimpa para siswa di tengah jalannya kegiatan belajar mengajar.
Selain ruang kelas yang rusak, masalah yang tidak kalah krusial adalah hancurnya fasilitas sanitasi sekolah. Pintu WC murid tampak dikunci menggunakan palang kayu darurat karena bagian dalamnya sudah tidak berfungsi. Ruangan toilet terlihat sangat kotor, dipenuhi tumpukan sampah, tanpa air bersih, dan bak penampungan yang rusak total.
Kondisi ini memaksa para murid untuk mengambil jalur pintas yang tidak higienis demi menuntaskan hajat mereka. Beberapa siswa menceritakan bahwa setiap kali mereka ingin buang air kecil maupun buang air besar (BAB), mereka terpaksa harus berjalan ke area belakang sekolah dan melakukannya di pinggir kali kecil yang mengalir di dekat area persawahan. Selain tidak sehat, hal ini tentu sangat berisiko terhadap keselamatan fisik anak-anak tersebut.
Melalui video yang beredar, pihak sekolah dan masyarakat setempat menyelipkan pesan terbuka yang ditujukan langsung kepada para pemangku kebijakan. Mereka berharap agar jeritan dari pelosok Patokbeusi ini didengar oleh dinas terkait sebelum jatuh korban jiwa akibat ambruknya bangunan kelas.
Masyarakat meminta agar dilakukan renovasi total, baik untuk perbaikan ruang kelas agar kembali aman dan nyaman, maupun pengadaan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang layak dan higienis demi menjaga martabat serta kesehatan generasi penerus bangsa di Subang.
Hingga berita ini dipublikasikan, belum mendapat konfirmasi dari pihak berwenang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subang maupun pihak sekolah.





