JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tengah bergerak cepat menyiapkan langkah strategis untuk masa depan generasi muda bangsa. Menyambut momentum bersejarah peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda pada tahun 2028 mendatang, Kemenpora kini sedang merancang sebuah cetak biru (blueprint) pembangunan kepemudaan nasional untuk satu abad ke depan.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa arah pembangunan kepemudaan saat ini tidak bisa lagi disamakan dengan kondisi satu abad yang lalu. Oleh karena itu, diperlukan strategi baru yang adaptif agar Indonesia mampu mencetak generasi muda yang kompetitif sekaligus mengoptimalkan potensi bonus demografi secara maksimal.
Dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI pada Selasa (14/7/2026), Erick menjelaskan bahwa sektor kepemudaan telah menjadi salah satu fokus utamanya sejak awal menjabat, bersanding dengan pembinaan olahraga.
“Kalau Bapak Ibu ingat, pertama kali saya sudah angkat isu itu. Dan alhamdulillah dari beberapa diskusi dengan pakar yang kita bentuk, kita melihat tahun 2028 adalah peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda. Artinya, 100 tahun ke depan apa benar strategi kepemudaan kita sama dengan 100 tahun yang lalu? Saya yakin sangat berbeda,” ujar Erick, sebagaimana dipantau dari kanal YouTube TVR Parlemen.
Menjawab Tantangan Stagnasi Indeks Kepemudaan
Urgensi penyusunan dokumen jangka panjang ini bukan tanpa alasan. Saat ini, kelompok pemuda mendominasi sekitar 23,8 persen dari total populasi Indonesia, atau setara dengan kurang lebih 64 juta jiwa.
Kendati memiliki jumlah yang sangat masif, Erick mengungkapkan bahwa indeks kepemudaan nasional masih mengalami stagnasi atau pertumbuhan yang lambat. Kondisi inilah yang harus segera diintervensi agar tidak menjadi bumerang bagi masa depan bangsa.
“Tentu jangan sampai demografi yang seharusnya menjadi bonus bangsa agar menjadi lebih kuat ke depannya justru malah menjadi kontraproduktif karena kita tidak menyiapkan kepemudaan yang kompetitif,” tegasnya.
Mengingat pembangunan pemuda adalah investasi strategis yang menentukan kualitas kepemimpinan, inovasi, produktivitas, dan daya saing nasional, Kemenpora berkomitmen memperketat penggunaan anggaran berbasis manfaat (benefit-based budgeting). Langkah ini diambil demi memastikan setiap rupiah APBN memberikan dampak riil bagi kualitas SDM.
Sebagai wujud keseriusan, Kemenpora mengusulkan kenaikan anggaran sektor kepemudaan pada tahun 2027 hingga hampir tiga kali l ipat. Erick berharap usulan alokasi anggaran ini dipertahankan, mengingat hasil dari investasi kepemudaan kerap kali tidak instan namun sangat krusial.
“Untuk itu di anggaran tahun 2027 angka untuk sektor kepemudaan kita tingkatkan hampir tiga kali lipat, mudah-mudahan tidak dikurangi lagi. Kepemudaan ini menjadi isu yang sepertinya output-nya tidak terlihat, tapi akan salah besar jika kita tidak berinvestasi pada sektor kepemudaan kita,” pungkas Erick.
Melalui kehadiran blueprint ini, Kemenpora optimistis momentum seabad Sumpah Pemuda pada 2028 akan menjadi batu pijakan kokoh untuk melahirkan para pemimpin masa depan yang siap membawa Indonesia menjawab tantangan satu abad berikutnya.


