SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan sejumlah poin penting dalam pidatonya pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Subang dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Subang.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi menyoroti persoalan lingkungan dan tata kota yang dinilai masih menjadi tantangan serius. Ia menyinggung kemacetan akibat aktivitas kendaraan kontainer di pagi hari serta keberadaan tumpukan tanah ilegal yang dinilai mengganggu ketertiban dan estetika wilayah.
Menurutnya, kemajuan suatu daerah harus dimulai dari kondisi lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman. Ia menegaskan bahwa kebersihan dan keteraturan menjadi syarat utama untuk mendorong pertumbuhan daerah.
Pada pidato di Paripurna Istimewa HUT ke-78 Kabupaten Subang itu, setidaknya ada tujuh poin penting saran dan kritik KDM untuk Pemerintah Kabupaten Subang
▪︎ Masalah Lingkungan dan Tata Kota
Dedi menyinggung kemacetan akibat aktivitas kontainer di pagi hari serta maraknya tumpukan tanah ilegal. Ia menegaskan pentingnya menjaga kebersihan, ketertiban, dan estetika wilayah sebagai fondasi kemajuan daerah.
▪︎ Pemimpin Harus Berani dan Tidak Normatif
Ia mengkritik gaya kepemimpinan yang cenderung “cari aman”. Menurutnya, pemimpin harus berani mengambil keputusan tegas dan nyata untuk kepentingan rakyat.
▪︎ Birokrasi Harus Berdampak Nyata
Dedi menyoroti pola kerja ASN yang masih prosedural dan seremonial. Ia mendorong agar birokrasi lebih fokus pada hasil dan manfaat langsung bagi masyarakat, bukan sekadar rutinitas administratif.
▪︎ Tingkatkan Profesionalisme Pelayanan Publik
Pelayanan publik harus dilakukan secara profesional agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah.
▪︎ Pariwisata Adalah Dampak, Bukan Tujuan
Ia menegaskan bahwa pariwisata akan berkembang dengan sendirinya jika penataan kota, kebersihan, dan infrastruktur sudah baik—tanpa perlu promosi besar-besaran.
▪︎ Bangun Daerah Berbasis Sejarah dan Spirit Lokal
Dedi mengajak masyarakat menggali nilai sejarah dan kearifan lokal, seperti kisah Mbah Dongdo, Rangga Wulung, dan Subang Larang sebagai penguat identitas dan karakter daerah.
▪︎ Ajak Perubahan Mental dan Kerja Nyata
Secara keseluruhan, ia mengajak seluruh elemen di Subang untuk melakukan perubahan pola pikir, meningkatkan kinerja, dan bekerja konkret demi mewujudkan Subang yang lebih maju dan “ngabret”.





