Profil

Tak Andalkan Ijazah, Pemuda Sukabumi Sukses Raup Rupiah dari ‘Homeless Media’

×

Tak Andalkan Ijazah, Pemuda Sukabumi Sukses Raup Rupiah dari ‘Homeless Media’

Sebarkan artikel ini
Pramudya Slamet Januarso (KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH )

SUKABUMI, TINTAHIJAU.com — Ruang pendidikan formal rupanya tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang sejalan dengan jurusan kuliahnya. Sengitnya persaingan dunia kerja pascakelulusan menuntut para sarjana untuk memutar otak dan melirik peluang lain di luar disiplin ilmu mereka.

Hal inilah yang dialami oleh Pramudya Slamet Januarso (25), seorang pemuda asal Sukabumi. Alih-alih mengandalkan ijazah sarjana akuntansi yang digenggamnya untuk melamar menjadi seorang akuntan, ia justru sukses menghidupi kesehariannya lewat industri kreatif dengan mengembangkan homeless media (media berbasis akun media sosial tanpa induk perusahaan pers resmi).

“Memang jurusan kuliah saya akuntansi, tapi saya tidak ada minat untuk bekerja menjadi seorang akuntan, justru dari pengalaman editing di organisasi memberikan saya peluang baru,” ujar Pramudya pada Rabu (1/7/2026) malam.

Berawal dari Magang dan Organisasi Kampus

Keterampilan Pramudya di dunia kreatif tidak datang begitu saja. Kemampuan editing dan kehumasan tersebut ia asah melalui keterlibatannya dalam organisasi kemahasiswaan. Ketertarikannya semakin mendalam saat ia berkesempatan mengikuti magang di industri kreatif semasa kuliah.

“Saat kuliah saya sempat magang di industri kreatif, dari situ saya dapat kepercayaan untuk mengelola dan melakukan editing untuk media sosial pejabat publik,” kenang Pramudya.

Selama masa magang, ia kerap mengabadikan berbagai potret dan momen menarik mengenai Sukabumi. Karena membutuhkan wadah untuk mengekspresikan dan memublikasikan hasil rekaman videonya, Pramudya akhirnya berinisiatif mendirikan sebuah akun homeless media yang berfokus pada topik-topik lokal seputar Sukabumi.

Beromzet Jutaan Rupiah dari Endorsement

Siapa sangka, akun yang awalnya hanya dibuat sebagai wadah dokumentasi kejadian lokal kini bertransformasi menjadi ladang penghasilan utama yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pramudya membeberkan bahwa dalam satu bulan, akun homeless media miliknya rata-rata dapat menjaring sekitar lima kali kerja sama promosi (endorse). Tarif yang ia patok berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 500.000 untuk setiap satu kali penayangan unggahan (posting).

Selain menjadi mesin pencari uang, kehadiran media sosial ini juga membawa dampak sosial yang positif bagi komunitas sekitar.

“Alhamdulillah, selain mendapat undangan event, saya juga berkesempatan membantu usaha orang lain dalam mempublikasikan usahanya, membantu para mahasiswa dalam mempublikasikan acaranya, dan tak sedikit juga ketika ada orang yang kehilangan barangnya atau yang lainnya kita juga bantu posting supaya mudah-mudahan ada jalan keluarnya,” pungkas Pramudya.

Melihat potensi ekonomi digital yang kian menjanjikan, pemuda berusia 25 tahun ini mengaku masih nyaman melakoni profesinya saat ini dan belum terpikirkan untuk mencari pekerjaan kantoran bermodalkan ijazah akuntansinya.