Profil

Tamu Istimewa dari Negeri Belanda, Aboeprijadi Santoso

×

Tamu Istimewa dari Negeri Belanda, Aboeprijadi Santoso

Sebarkan artikel ini
Aboeprijadi Santoso memegang koran berbahasa Belanda "Nieuwsgier" terbitan Jakarta tahun 1953 | Foto: Ist.

Tulisan-tulisannya dan wawancara-wawancaranya sering dijadikan acuan oleh para pemerhati Indonesia di berbagai negara. Ia juga sering menjadi narasumber penting dalam berbagai seminar tentang Indonesia, baik di Belanda maupun di berbagai negara Eropa.

Sebagai informasi tambahan, saat ini beliau bersama rekan-rekan di Ranesi juga tengah menyusun dan menyiarkan empat dokumenter-radio (audio) yaitu ‘Agresi dan Perjuangan’ (1996) tentang Perjuangan Kemerdekaan RI, Timor Timur (1996), Kemerdekaan Timor Leste (1999) dan Konflik Aceh (2000).

Pak Tossi bercerita bahwa bersama istrinya di masa tua nanti, mereka berkeinginan untuk kembali dan menetap di Indonesia, tinggal di kampung halamannya di Malang.

Mereka bermimpi mengisi masa pensiun dengan berkontribusi pada hal-hal sosial kemasyarakatan dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

“Oya, di Negeri Belanda sedang memasuki musim dingin,” katanya mengakhiri obrolan.

Pak Tossi dan Istri bersama Penulis

Dalam perjalanan panjang hubungan antara pendengar setia dan penyiar radio, kisah persahabatan antara Aboeprijadi Santoso, yang akrab dipanggil Pak Tossi dan Kin Sanubary telah membentuk suatu cerita yang tak terlupakan.

Sebuah perjumpaan hangat mereka menjadi momentum penting, mengingatkan kita pada kekuatan media radio gelombang pendek dalam mempersatukan hati dan pikiran di tengah situasi panas konflik di berbagai pelosok dunia.

Pak Tossi, seorang jurnalis penuh semangat, telah memberikan sumbangsih luar biasa dalam mengangkat isu-isu kritis, terutama mengenai hak asasi manusia di Indonesia. Kisahnya yang terkait dengan Timor Timur menjadi bukti nyata keteguhan dan dedikasinya dalam menyuarakan kebenaran, bahkan di tengah situasi berbahaya dan konflik.

Melalui tulisan-tulisan dan laporannya, Pak Tossi tak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di berbagai belahan dunia. Semangatnya untuk kembali dan menetap di Indonesia di masa tua merupakan gambaran indah tentang keinginan untuk memberikan kontribusi pada masyarakat dan melestarikan akar budaya yang dimilikinya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa hubungan tak terbatas pada sebatas frekuensi gelombang pendek, tetapi melampaui batas geografis. Kesimpulan yang indah mengingatkan kita akan kekuatan persahabatan, keinginan untuk berbagi kisah, dan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan, bahkan di tengah kompleksitas konflik dan ketegangan.

Terima kasih Pak Tossi atas jejak perjalanan yang telah Anda bagi.