Ragam

BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering Akibat El Nino, Wilayah Selatan RI Paling Rentan

×

BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering Akibat El Nino, Wilayah Selatan RI Paling Rentan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJJAU.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi cuaca ekstrem yang akan melanda Indonesia. Musim kemarau tahun 2026 ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal. Hal tersebut dipicu oleh menguatnya fenomena iklim El Nino.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa meskipun kemarau merupakan siklus tahunan yang lumrah, kehadirannya yang bersamaan dengan El Nino tahun ini akan membawa dampak yang jauh lebih besar bagi Indonesia.

“Musim hujan dan musim kemarau akan kita alami setiap tahun. Tapi yang menjadi permasalahan adalah ketika musim kemarau bersamaan waktunya dengan fenomena El Nino. Itu membuat kondisi di negara kita, seperti tahun ini, kemaraunya akan lebih panjang dan lebih kering dari rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir,” ujar Faisal dikutip dari laman resmi BMKG.

Puncak Kemarau dan Wilayah Terdampak

BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Berdasarkan data prediksi, curah hujan sepanjang periode Juli hingga Desember 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan sifat hujan didominasi oleh kondisi di bawah normal (lebih kering dari biasanya).

Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko kekeringan parah. BMKG secara khusus memetakan wilayah-wilayah yang paling rentan, terutama kawasan Indonesia yang berada di bagian selatan garis khatulistiwa, meliputi:

  • Pulau Jawa (terutama wilayah pesisir)
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
  • Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Sumatera bagian selatan
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian Papua Selatan

Dampak Sektor Pertanian dan Langkah Mitigasi BMKG

Kekeringan ekstrem ini berpotensi besar mengganggu ketersediaan sumber daya air di berbagai sektor vital, terutama sektor pertanian yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional.

Menghadapi tantangan nyata dari perubahan iklim ini, Faisal menegaskan pentingnya adaptasi berbasis sains. BMKG pun telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi, di antaranya:

  1. Penguatan Layanan Informasi Iklim: Menyediakan data cuaca yang akurat bagi masyarakat dan pemangku kebijakan.
  2. Analisis Kesesuaian Agroklimat: Membantu sektor pertanian menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim saat ini.
  3. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): Melakukan rekayasa cuaca guna membantu pengisian waduk, bendungan, dan embung. Langkah ini krusial untuk memastikan cadangan air tetap tersedia untuk irigasi, air baku, maupun kebutuhan energi menjelang puncak kemarau.

“Perubahan iklim itu adalah nyata dan kemudian perlu juga adaptasi mitigasi dari manusianya untuk dapat terus melanjutkan pembangunan. Tugas BMKG adalah untuk mendukung semua sektor pembangunan, termasuk pembangunan di bidang pertanian, perkebunan, hingga kelautan. Dan ini mestinya kita harus membuat sistem yang lebih siap dengan kondisi itu,” pungkas Faisal.

Sumber: KOMPAS