JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang signifikan di hampir seluruh wilayah Indonesia untuk periode 4 hingga 10 Mei 2026. Fokus utama pengawasan tertuju pada wilayah Laut Jawa yang kini masuk dalam kategori risiko tinggi.
Dalam laporan yang dirilis pada Minggu (3/5/2026), BMKG menyatakan bahwa zona dengan kategori Frequent (FRQ >75%) meluas hingga mencakup seluruh bagian Laut Jawa, mulai dari bagian barat, tengah, hingga timur. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat Laut Jawa merupakan jalur urat nadi transportasi laut dan distribusi logistik nasional.
“Awan Cumulonimbus merupakan awan dengan pertumbuhan vertikal tinggi yang identik dengan badai. Kondisi ini dapat memicu hujan lebat mendadak, petir, angin kencang, bahkan hujan es,” tulis laporan BMKG tersebut seperti yang dilansir dari laman KOMPAS.tv
Wilayah dengan Risiko Tinggi (Kategori FRQ >75%):
Selain Laut Jawa, BMKG juga memetakan wilayah lain yang masuk dalam zona risiko tinggi, di antaranya:
- Perairan: Laut Banda, Laut Maluku, Laut Seram, Samudra Hindia bagian barat (Aceh, Mentawai, Nias), serta Samudra Hindia selatan Banten.
- Daratan: Maluku dan Papua Selatan.
Wilayah dengan Potensi Sedang (Kategori OCNL 50–75%):
Sebagian besar wilayah Indonesia lainnya masuk dalam kategori Occasional (OCNL), di mana cakupan pertumbuhan awan badai diprediksi cukup luas, meliputi:
- Pulau Jawa: DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta.
- Pulau Sumatera: Seluruh provinsi mulai dari Aceh hingga Lampung.
- Pulau Kalimantan & Sulawesi: Seluruh wilayah provinsi di kedua pulau besar ini.
- Wilayah Timur: Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Meluasnya zona merah di wilayah perairan strategis seperti Selat Malaka, Selat Makassar, dan Laut Jawa diperkirakan akan berdampak pada aktivitas penerbangan dan pelayaran. BMKG mengimbau operator transportasi dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem yang bisa terjadi secara tiba-tiba.
Masyarakat disarankan untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi selama sepekan ke depan.




