SUBANG, TINTAHIJAU.com – Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG)-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan riset pengembangan TTG pada peralatan pengering bahan pangan.
Kepala PRTTG-BRIN, Achmat Sarifudin menerangkan Tepung telur merupakan salah satu produk olahan telur yang mudah dan tidak memerlukan teknologi yang rumit, prinsipnya adalah mengeringkan telur sampai kadar airnya dibawah 10%.
Alat pengering untuk produksi tepung telur bisa menggunakan pengering yang sederhana maupun seperti pengering dengan oven, pengering tipe rak, drum dryer, dan molen dryer. Proses pengeringan dapat membuat bahan menjadi padat dan kering sehingga mempermudah dalam proses pendistribusian, pengemasan maupun penyimpanan.
Dia mengatakan beberapa riset pengembangan tersebut telah mendapatkan lisensi, semisal; teknologi pengolahan mie non terigu dengan teknologi ekstruksi, teknologi pegolahan kopi, pengolahan pisang, dan lainnya dalam proses lisensi.
“Drum Dryer adalah jenis pengering yang digunakan untuk mengeringkan berbagai bahan makanan cair, semi cair, dan pasta, dimana pemanfaatannya terletak pada kebutuhan apakah secara massal atau pada sekelompok pelaku usaha,” kata Achmat
Lebih jauh, Achmat menyampaikan, bahwa PRTTG siap mendukung program Bapanas (Badan Pangan Nasional) dari segi pemanfaatan hasil-hasil riset pengembangan teknologi peralatan pengering bahan pangan.
“Secara khusus kami berharap bisa terjalinnya kerjasama/kolaborasi antara PRTTG dengan Bapanas dalam pemanfaatan riset teknologi pengembangan peralatan pengering tepung telur untuk mendukung ketahanan pangan Nasional, ungkap Achmat.
Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama dan Humas Badan Pangan Nasional (Bapanas) Risfaheri menyampaikan kunjungan ke BRIN ini untuk menjalin kerjasama kedepannya dengan PRTTG, salah sarunya dalam rangka menggerakkan UMKM agar bisa memiliki peralatan-peralatan pengolahan pangan yang tidak terlalu mahal tetapi sesuai standar TTG yang dapat menghasilkan produk pangan berkualitas
“Beberapa peternak Koperasi di Kendal dan Blitar mengalami kendala dalam pemasaran produk telur off-grade, dimana pelaku usaha ini dapat memproduksi telur sekitar 10 sampai 50 ton perhari, namun pemasarannya antara 5 sampai 10 % dan rata-rata pembelinya adalah pedadang nasi goreng, hal ini menjadi banyak stok hingga busuk. Hal lain kendala pelaku usaha ini juga belum memiliki peralatan pengering untuk memproduksi tepung telor, karenanya ia berharap agar riset TTG di PRTTG dapat diimplementasikan menjadi solusi dalam mengatasi stok telor berlebihan yaitu melalui penggunaan Drum Dryer,” paparnya