SUBANG, TINTAHIJAU.com – Banyak pelaku UMKM makanan dan warung masih bingung menentukan harga jual. Tidak sedikit yang asal memasang harga tanpa menghitung biaya produksi secara rinci.
Akibatnya, usaha terlihat ramai pembeli tetapi keuntungan justru tipis bahkan kadang tidak terasa.
Padahal dalam bisnis kuliner, menghitung HPP atau Harga Pokok Penjualan sangat penting. Dari perhitungan inilah pemilik usaha bisa mengetahui berapa sebenarnya modal yang dikeluarkan untuk satu porsi makanan.
HPP juga membantu menentukan harga jual yang wajar agar usaha tetap untung tanpa membuat pelanggan kabur. Sayangnya, masih banyak pedagang kecil yang menganggap perhitungan ini rumit dan hanya cocok untuk bisnis besar.
Padahal cara menghitung HPP makanan sebenarnya cukup sederhana dan bisa diterapkan oleh warung kecil sekalipun. Bahkan usaha gorengan, warteg, atau jualan nasi uduk pun sebaiknya mulai menghitung HPP supaya keuangan usaha lebih sehat.
Apa Itu HPP Makanan?
Secara sederhana, HPP adalah total biaya yang dikeluarkan untuk membuat sebuah produk makanan sampai siap dijual.
Biaya tersebut bukan hanya bahan baku utama, tetapi juga mencakup gas, minyak, bumbu, kemasan, hingga biaya pendukung lainnya.
Dengan mengetahui HPP, pemilik usaha bisa menentukan keuntungan secara lebih jelas.
Kenapa HPP Penting untuk UMKM?
Banyak usaha makanan gagal berkembang bukan karena sepi pembeli, tetapi karena salah menentukan harga jual.
Ada yang terlalu murah sehingga keuntungan kecil. Ada juga yang terlalu mahal sehingga sulit bersaing.
Melalui perhitungan HPP, pemilik usaha bisa:
– Mengetahui modal sebenarnya
– Mengatur keuntungan
– Mengontrol pengeluaran
– Menentukan harga jual yang masuk akal
– Menghindari kerugian tanpa disadari
Contoh Perhitungan HPP Makanan
Misalnya kamu punya usaha nasi goreng rumahan. Dalam sehari, kamu memasak 20 porsi nasi goreng.
Berikut contoh biaya yang dikeluarkan:
Bahan Baku
– Beras: Rp25.000
– Telur: Rp20.000
– Ayam suwir: Rp30.000
– Bumbu dan kecap: Rp15.000
– Minyak goreng: Rp10.000
Total bahan baku = Rp100.000
Biaya Tambahan
– Gas: Rp15.000
– Kemasan: Rp10.000
– Plastik dan sendok: Rp5.000
Total biaya tambahan = Rp30.000
Total Produksi
Rp100.000 + Rp30.000 = Rp130.000
Karena menghasilkan 20 porsi, maka:
Rumus HPP
HPP = Total Biaya Produksi/Jumlah Porsi
Jadi:
HPP = 130000/20 = 6500
Artinya, HPP satu porsi nasi goreng adalah Rp6.500.
Kalau ingin untung sekitar Rp3.500 per porsi, maka harga jual bisa dipasang sekitar Rp10.000.
Jangan Lupa Hitung Biaya Kecil
Salah satu kesalahan umum pelaku UMKM adalah lupa menghitung biaya kecil.
Padahal hal seperti tisu, sambal, listrik, atau air juga termasuk pengeluaran usaha. Kalau diabaikan terus-menerus, keuntungan bisa berkurang tanpa disadari.
Karena itu, biasakan mencatat semua pengeluaran sekecil apa pun agar perhitungan lebih akurat.
Harga Murah Belum Tentu Untung
Banyak warung sengaja menjual murah demi menarik pelanggan. Strategi ini memang bisa berhasil, tetapi tetap harus dihitung dengan benar.
Jangan sampai dagangan laris, tetapi modal habis untuk biaya produksi. Dalam usaha makanan, keuntungan kecil tetapi stabil biasanya lebih baik dibanding ramai pembeli namun tidak jelas hasilnya.
UMKM Harus Mulai Melek Keuangan
Sekarang persaingan usaha kuliner semakin ketat. Karena itu, pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan rasa enak.
Kemampuan mengatur keuangan juga jadi faktor penting agar usaha bisa bertahan lama.
Menghitung HPP adalah langkah sederhana tetapi sangat membantu untuk mengetahui kondisi usaha sebenarnya. Dengan pencatatan yang rapi, pemilik warung bisa lebih mudah menentukan strategi bisnis ke depan.
Mulai dari usaha kecil di rumah, gerobakan, sampai café modern, semuanya tetap membutuhkan perhitungan biaya yang jelas.
Sebab dalam bisnis kuliner, bukan hanya soal ramai pembeli, tetapi juga bagaimana usaha tetap menghasilkan keuntungan yang sehat dan terus berkembang.





