JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional. Momentum ini menjadi ajang perayaan atas berbagai pencapaian perempuan di ranah sosial, budaya, politik, hingga ekonomi, sekaligus menjadi pengingat untuk terus memperjuangkan kesetaraan gender serta menggalang dukungan bagi isu-isu perempuan.
Untuk tahun 2026, UN Women melalui Direktur Eksekutifnya, Sima Bahous, menetapkan tema besar: “Hak. Keadilan. Aksi. Untuk semua Perempuan dan Anak Perempuan.”
Dikutip dari laman KOMPAS.com, dalam pernyataan resminya pada Sabtu (7/3/2026), Sima Bahous memberikan apresiasinya terhadap perjuangan perempuan di seluruh dunia.
“Selamat Hari Perempuan Internasional 2026. Sebuah hari untuk merayakan setiap suara yang diangkat, setiap hambatan yang dipatahkan, setiap hak yang diperjuangkan oleh perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia,” ujar Bahous.
Kemajuan dan Kontradiksi di Era Modern
Bahous memaparkan bahwa posisi kesetaraan gender saat ini berada di titik yang krusial. Di satu sisi, dunia mencatat kemajuan seperti penguatan regulasi terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), meningkatnya akses pendidikan bagi anak perempuan, serta semakin solidnya jaringan gerakan perempuan global.
Namun, ia juga memperingatkan adanya ancaman yang nyata.
“Kita belum pernah sedekat ini untuk mencapai kesetaraan gender, dan belum pernah sedekat ini pula untuk kehilangan kesetaraan gender tersebut,” imbuh dia.
Bahous menyoroti fenomena kontradiktif di mana kekerasan terhadap perempuan justru meningkat, termasuk di ruang digital. Pelanggaran hak terjadi secara terang-terangan dan diperparah dengan adanya impunitas, di mana pelaku kejahatan serius atau pelanggaran HAM berat seringkali luput dari jerat hukum.
Oleh karena itu, ia menegaskan posisi UN Women untuk terus mendampingi perempuan di berbagai level, mulai dari komunitas akar rumput hingga panggung kekuatan global.
“UN Women dibangun untuk momen ini, dari zona krisis hingga ruang sidang, dari tingkat akar rumput hingga kekuatan global. Kami berdiri bersama perempuan dan anak perempuan ketika hak-hak mereka ditolak, tertundanya keadilan, dan kekerasan diabaikan,” kata Bahous.
Makna Warna dan Jejak Sejarah
Peringatan Hari Perempuan Internasional identik dengan tiga warna utama yang memiliki filosofi mendalam, yaitu ungu, hijau, dan putih. Warna ungu melambangkan martabat dan keadilan, hijau mewakili harapan, sementara putih merepresentasikan kemurnian. Simbolisme warna ini telah digunakan sejak tahun 1908 oleh Women’s Social and Political Union (WSPU) di Inggris.
Sejarah IWD sendiri berakar dari gejolak dunia industri di awal abad ke-20. Gagasan mengenai hari khusus perempuan pertama kali dicetuskan oleh Clara Zetkin, seorang pemimpin Partai Sosial Demokrat Jerman, dalam Konferensi Internasional Perempuan Pekerja kedua di Kopenhagen tahun 1910.
Zetkin mengusulkan agar setiap negara mengadakan perayaan serentak setiap tahun untuk menyuarakan tuntutan perempuan. Usul tersebut disetujui oleh lebih dari 100 peserta wanita dari 17 negara yang hadir, hingga akhirnya Hari Perempuan Internasional terus diperingati secara global hingga saat ini sebagai simbol perlawanan dan kemajuan kaum perempuan.




