Ragam

ICMI Jabar Kritik Pemprov Soal Ketahanan Pangan dan Stunting

×

ICMI Jabar Kritik Pemprov Soal Ketahanan Pangan dan Stunting

Sebarkan artikel ini

Namun Sutarman menegaskan bahwa untuk dua hal yang mendasar yaitu Ketahanan Pangan dan Stunting masih perlu upaya keras untuk meningkatkan indeks Ketahanan Pangan, agar menjadi provinsi peringkat papan atas di antara 38 provinsi di Indonesia.

Demikian halnya prevalensi stunting Jawa Barat masih di atas yang disyaratkan WHO, selain itu disparitas antar kabupaten/kota di Jawa Barat masih cukup tinggi, jika target Jawa Barat mencapai 14% tahun 2024 maka perlu dukungan dari berbagai pihak termasuk organisasi masyarakat dan perguruan tinggi, dalam kerangka kolaborasi penthahelic, meliputi akademisi, birokasi, komunitas, bisnis dan media.

Rektor Ikopin University Prof. Agus Pakpahan menyambut baik ajakan kolaborasi dari ICMI Jabar untuk membangun masyarakat Jawa Barat dalam mengakses pangan yang cukup dan sehat agar mampu menurunkan angka prevalensi stunting di Jawa Barat.

Agus menegaskan bahwa salah satu upaya menurunkan angka prevalensi stunting perlunya mengkonsumsi bermutu dan sebagai warisan leluhur bangsa ini, yaitu bekatul sebagai mega super food, serta mengelola sampah organik untuk budidaya “maggot”sebagai pakan ternak bebek sehingga mampu menghasilkan telur dengan kadar protein tinggi.

Karena stunting sudah menjadi masalah nasional, untuk memecahkan masalah tersebut pemerintah pusat melakukan berbagai upaya melalui berbagai jalur birokrasi, termasuk TNI dan Polri, kedua instansi ini sudah melangkah dan masuk dalam program kerja unggulan (QuickWin Polri).

Salah seorang pemateri dalam diskusi tersebut, Rokhmin Dahuri membeberkan perlunya menerapkan 10 langkah upaya peningkatan produktivitas komoditas pangan.

Dia merinci 10 langkah itu adalah penyusunan big data, mempertahankan lahan pertanian, penggunaan teknologi mutakhir, pembukaan lahan baru, diversifikasi budidaya spesies pangan, skala ekonomi, revitalisasi insrastruktur pertanian, konservasi ekosistem hutan dan DAS, pengendalian percemaran oleh sektor pertanian sendiri, dan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan bencana alam lain.