SUBANG, TINTAHIJAU.com – Di tengah arus besar anak muda yang berlomba-lomba masuk jurusan populer seperti Kedokteran, Hukum, atau Manajemen, diam-diam ada sejumlah jurusan kuliah yang justru sepi peminat. Tapi anehnya, mereka menyimpan potensi besar: gaji tinggi, peluang kerja luas, dan masa depan yang cerah. Ironisnya, karena dianggap “kurang keren” atau “kurang familiar,” jurusan-jurusan ini kerap terabaikan.
Namun kini, saat kesadaran terhadap karier masa depan mulai menggeser gengsi semata, deretan jurusan “sepi tapi seksi” ini mulai menjadi bahan pembicaraan baru di dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Seni Rupa dan Desain: Di Antara Imajinasi dan Realita Finansial
Di kampus sekelas Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) justru menjadi jurusan dengan peminat paling sedikit dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025—hanya 52 orang. Di Universitas Brawijaya (UB), jurusan Seni Rupa Murni pun senasib, hanya dilirik oleh 40 calon mahasiswa.
Padahal, lulusan jurusan ini sangat dicari di industri kreatif: mulai dari desainer grafis, ilustrator, hingga direktur seni di perusahaan media dan periklanan. Gaji awalnya? Bisa tembus Rp 11 juta per bulan. Bagi mereka yang punya mata estetika dan jari-jari emas, dunia seni bukan sekadar kanvas kosong—tapi lahan karier menjanjikan yang terus tumbuh.
Mikrobiologi: Dunia Kecil, Gaji Besar
Tak banyak yang tahu bahwa dunia mikroorganisme bisa mengantar seseorang menuju pekerjaan bergaji tinggi. Di Universitas Gadjah Mada (UGM), Program Studi Mikrobiologi Pertanian bahkan hanya menerima 35 mahasiswa per tahun. Rasio peminatnya rendah: 1 banding 10.
Namun, lulusan jurusan ini dibutuhkan di berbagai sektor: farmasi, bioteknologi, industri pangan, hingga kesehatan lingkungan. Jobstreet mencatat, gaji rata-rata di bidang ini bisa mencapai Rp 6,7 juta per bulan. Sebuah angka yang cukup besar untuk jurusan yang terbilang “sunyi”.
Teknik Bioenergi dan Kemurgi: Energi Hijau yang Tak Terlihat
Cuma satu kampus yang menawarkan jurusan Teknik Bioenergi dan Kemurgi: ITB. Nama jurusannya saja sudah bikin banyak calon mahasiswa garuk-garuk kepala. Tapi di balik itu, terdapat ilmu tentang energi terbarukan dari biomassa seperti limbah pertanian.
Jurusan ini mempersiapkan lulusannya untuk menjawab tantangan zaman: energi bersih, inovasi ramah lingkungan, dan produk kimia berkelanjutan. Di dunia kerja, lulusan bidang ini dikategorikan sebagai insinyur lingkungan dengan gaji antara Rp 11 juta hingga Rp 14 juta per bulan. Sayang, keunikan jurusan ini justru membuatnya dilirik segelintir orang saja.
Teknologi Bioproses: Sains + Teknik + Inovasi
Teknik Bioproses adalah jurusan campuran antara biologi, kimia, dan teknik. Ia memegang peranan penting dalam menghasilkan produk-produk seperti makanan, obat, energi, hingga kosmetik. Sayangnya, jurusan ini hanya ada di dua kampus: UI dan UB. Jumlah peminatnya pun hanya 133 di UI dan 114 di UB.
Di industri, lulusan Teknik Bioproses sangat dibutuhkan sebagai ahli fermentasi, perancang bioreaktor, atau analis mutu produk. Gajinya? Bisa menyentuh angka Rp 10 juta per bulan. Tapi karena dianggap “terlalu ilmiah”, jurusan ini masih belum jadi pilihan utama banyak calon mahasiswa.
Geofisika: Ilmu Bumi, Gaji Langit
Jurusan Geofisika mungkin tidak sepopuler Geologi atau Teknik Sipil. Tapi di UI, jurusan ini mencatat hanya 124 peminat dalam SNBP 2025. Padahal, geofisikawan adalah ahli penting dalam riset kebumian, eksplorasi energi, dan mitigasi bencana.
Lulusan Geofisika dibutuhkan di sektor energi, terutama eksplorasi minyak dan gas, serta di badan-badan pemerintah seperti BMKG. Rata-rata gajinya mencapai Rp 11,5 juta per bulan. Namun entah mengapa, calon mahasiswa belum banyak yang tertarik “menggali bumi” demi masa depan yang lebih cerah.
Paradoks Jurusan: Gaji Tinggi, Peminat Rendah
Fenomena ini mencerminkan pentingnya edukasi karier sejak dini. Banyak siswa masih memilih jurusan berdasarkan tren atau tekanan sosial, bukan minat dan informasi objektif. Padahal, masa depan justru bisa lebih cerah di jurusan-jurusan yang dianggap “tidak populer” ini.
Kementerian Pendidikan, platform bimbingan belajar, hingga orang tua pun memiliki peran penting untuk memperkenalkan lebih dalam ragam jurusan di perguruan tinggi—dan potensi masa depan di baliknya.
Jangan Asal Ikut Arus
Di era ketika kreativitas, keberlanjutan, dan inovasi menjadi kata kunci, jurusan seperti Seni Rupa, Mikrobiologi, hingga Teknik Bioenergi bukan lagi pilihan alternatif. Mereka adalah garda depan untuk dunia kerja masa depan yang semakin kompleks dan menantang.
Jadi, saat memilih jurusan kuliah, berhentilah bertanya, “Mana yang paling populer?” dan mulailah bertanya, “Mana yang paling sesuai dengan potensi dan masa depan saya?”
Karena kadang, jalan yang sepi justru membawa kita ke tempat terbaik yang tak pernah diduga.





