“Untuk menjaga dan meningkatkan pelayanan memang perlu pembiayaan. Maka penerimaan harus tetap baik agar dapat melakukan belanja investasi perbaikan infrastruktur, mengganti paralatan dan jaringan perpipaan. Misal untuk Jalancagak dan Kasomalang kami harus mengganti pompa dengan kapasitas lebih besar. Sebab debit air menurun, hampir setiap hari ada aduan pelanggan. Sekarang sudah tertangani,” papar Lukman.
Menurut Lukman, persoalan kekeruhan air akan lebih dominan saat musim hujan. Maka petugas operator WTP harus lebih cermat mengolah air. Akan terjadi lonjakan penggunaan bahan kimia untuk penjernih air. Air baku dari sungai maupun mata air akan lebih keruh dibanding musim kemarau.
Selain itu, pihaknya akan memaksimalkan patroli memeriksa jaringan, melakukan wash out untuk mencegah sumbatan di pipa dan memaksimalkan kinerja operator.
“Operator merupakan ujung tombak. Kami sudah berlakukan kenaikan uang lembur untuk mereka. Kebetulan uang lembur operator sudah lebih dari lima tahun tidak ada kenaikan. Padahal operator harus standby 24 jam dan tinggal di rumah operator yang sudah disediakan. Mereka sebagai koki mengolah air,” tandas Lukman.
Seperti halnya di musim kemarau, Lukman optimis Perumda TRS tetap bisa melakukan pelayanan terbaik saat musim hujan. Sebab sudah menjadi kewajiban Perumda TRS sebagai BUMD mengutamakan pelayanan publik.
“Kami optimis bisa tetap maksimal melayani. Kami sebagai kepanjangan tangan pemerintah memberikan layanan air bersih untuk masyarakat. Melekat tugas kami sebagai BUMD dengan tugas utama public service obligation (PSO). Kepuasan pelanggan yang paling utama,” pungkasnya.