SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Sorak tawa pecah di Ballroom Rosin Resto, Cisaga, Subang, Selasa (28/10/2025) sore. Ratusan orang dari berbagai latar belakang, mulai dari pemuda lintas agama, tukang becak, pengamen jalanan, hingga manusia silver, larut dalam suasana hangat dan penuh canda.
Di tengah mereka, berdiri sosok komedian nasional Rony Imannuel alias Mongol Stres, yang tampil dengan gaya khasnya: santai, spontan, dan jenaka.
Mongol menjadi bintang utama dalam acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 yang digagas Persaudaraan Pemuda Lintas Iman (PPLI) Kabupaten Subang, bertema “Pemuda Lintas Agama Subang Bergerak untuk Kebaikan.”
Dengan logat Manado yang kental dan cerita hidupnya yang penuh warna, Mongol sukses menghipnotis audiens. Ia bercerita tentang masa lalunya sebagai pedagang koran, perjuangan di dunia hiburan, hingga kisah di balik layar dunia komedi.
“Saya dulu jual koran di terminal. Kadang makan nggak tentu. Tapi hari ini saya berdiri di sini, di depan orang-orang hebat, termasuk para tukang becak yang luar biasa kuat. Tuhan itu lucu, tapi selalu adil,” kata Mongol disambut gelak tawa dan tepuk tangan panjang.
Tawa pun menggema, tapi bukan tawa kosong. Ada rasa haru dan kagum yang menyelinap di antara penonton. Banyak yang mengaku tak menyangka bisa menyaksikan langsung komedian nasional di acara yang begitu dekat dengan masyarakat kecil.
Dedi (46), seorang tukang becak asal Karanganyar, mengaku belum pernah menghadiri acara seperti ini sebelumnya.
“Biasanya kami cuma lewat di jalan, nggak pernah diajak ikut acara begini. Tapi tadi bisa ketawa bareng Mongol, rasanya kayak mimpi,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara Hadi (32), warga Subang yang sehari-hari mengamen di sekitar alun-alun, menyebut momen ini “menghangatkan hati.”
“Pecah banget, menghibur banget. Biasanyaliatdi tv ataudi medsos sekarang bisa lihat langsung,” katanya.
Ketua Panitia Pelaksana E. H. Aini Pattihahuan Gebze mengatakan, kehadiran Mongol memang menjadi bagian dari upaya panitia menghadirkan acara yang menyentuh banyak kalangan.
“Kami ingin semua orang, tanpa memandang status, bisa merasakan makna Sumpah Pemuda, bersatu dan berbuat baik. Mongol membuktikan, tawa pun bisa menyatukan,” ujarnya.
Selain penampilan Mongol, kegiatan juga diisi Doa Kebangsaan lintas iman, pentas budaya, makan prasmanan gratis, dan pembagian goodie bag untuk pengamen dan tukang becak. Suasana berlangsung hangat hingga menjelang malam.





