Ragam

Lawan Perundungan, Lewat Penguatan Pendidikan Karakter dan Sekolah Ramah Anak

×

Lawan Perundungan, Lewat Penguatan Pendidikan Karakter dan Sekolah Ramah Anak

Sebarkan artikel ini

“Untuk melahirkan sekolah ramah anak (SRA) harus dimulai oleh diadakannya regulasi atau kebijakan tentang sekolah ramah anak di sekolah yang dimaksud, selanjutnya membekali pendidik dan tenaga kependidikan tentang materi sekolah ramah anak, dilanjutkan dengan menghadirkan proses pembelajaran yang ramah anak, diikuti oleh ketersediaan sarana prasarana, melibatkan partisipasi anak pada beragam keputusan yang diambil oleh sekolah, dan memfasilitasi pihak orang tua, masyarakat, dunia usaha dan stakeholder lain untuk ikut berpartisipasi dalam proses pendidikan,” paparnya

Terlepas program sekolah ramah anak itu ada atau tidak ada, namun Dadan menegaskan, sekolah sudah berkewajiban untuk menghadirkan diri sebagai sekolah yang ramah terhadap anak. sekolah harus jadi taman tempat anak bermain dan belajar, apalagi untuk sekolah dasar.

Oleh karenanya, Guru harus mampu menjadi seperti petani yang merawat tanaman yang ditanamnya dan paham tehnik menumbuhkan tanamannya serta menggemburkan tanah tempat menanamnya, supaya kelak tanaman-tanaman yang ditanam itu tumbuh dengan subur , teramati proses pertumbuhannya dan diharapkan kelak dapat berbuah dengan lebat dan bermanfaat.

“Sekolah ramah anak menjadi salah satu program untuk meminimalisir dan bahkan diharapkan dapat menghilangkan apa yang disebut tiga dosa besar dalam pendidikan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, yakni Perundungan, Kekerasan Seksual dan Intoleransi,” imbuhnya.

Untuk penguatan pendidikan karakter di sekolah, adalah salah satu hal yang juga mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Pemerintah, kata Dadan, sangat menyadari besarnya tantangan pembentukan karakter anak-anak hari ini, ditengah gempuran dahsaytnya dampak perkembagan teknologi digital yang tidak diimbangin oleh kecerdasan literasi digital, mengakibatkan anak-anak mengalami degradasi karakter positif.

Hal ini semakin diberatkan dengan mulai bergesernya peradaban masyarakat kita. sementara ditahun 2045 bangsa Indonesia dihadapkan pada datangnya bonus demografi yang harus disiapkan agar dapat dijadikan sebagai batu hentakan kemajuan bangsa.

“Pendidikan karakter ini ditekankan pada peran sekolah sebagai tempat untuk olah hati (etika)siswa, olah pikir (literasi) siswa, olah raga (kinestetik) siswa dan olah karsa (estetika) siswa. Kemudian diharapkan dapat melahirkan nilai-nilai pendidikan karakter yang sekarang dikenal dengan profile pelajar pancasila pada kurkulum merdeka,” jelasnya .

Namun demikian, diakui Dadan, hal tersulit dalam menanamkan nilai-nilai karakter ini adalah nyaris sulit menemukan figure yang menjadi model dari manusia berkarakter yang dimaksud, sementara pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh faktor tauladan.

Namun fakta di lapangan banyak public figure dan pejabat yang seharusnya memberi tauladan manusia berkarakter positif namun sebaliknya, akhirnya kembali pada figus guru setidaknya harus mampu menjadi figus manusa berkarakter positif sebagai tauladan siswa di sekolah.

“Pendidikan karakter pun harus melibatkna 3 pihak sekaligus, pihak sekolah sebagai lembaga resmi penyelenggara pendidikan, rumah sebagai tempat anak melakukan pembiasaan dan masyarakat sebagai tempat pembentukan watak anak. sementara hari ini semua beban pendidikan masih saja hanya bertumpu pada sekolah, padahal anak-anak hidup 24 jam dan hanya 30 % waktu mereka ada di sekolah,” pungkasnya.