SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Isu intoleransi kini mulai dikenalkan sebagai bagian dari pendidikan karakter sejak usia dini. Hal itu menjadi salah satu materi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di TK Negeri Pembina Subang yang dihadiri Bunda PAUD Kabupaten Subang, Ega Anjani Reynaldy, Kamis (16/7/2026).
Mengusung tema “Intoleransi di Lingkungan Satuan Pendidikan”, kegiatan MPLS tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, tetapi juga menanamkan nilai saling menghormati perbedaan suku, agama, ras, hingga kondisi fisik teman sebaya.
Bunda PAUD Kabupaten Subang, Ega Anjani Reynaldy, menegaskan pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter sekaligus mendukung anak meraih cita-citanya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan penuh dari orang tua.
“Kalau cita-citanya tinggi, maka anak-anak kita harus rajin belajar dan pintar. Kita harus mendukung pendidikan anak sejak usia dini,” ujar Ega.
Ia juga mengapresiasi para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya di jenjang TK dan PAUD sebagai langkah awal membangun kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat PAUD Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Soripada Harahap, menjelaskan MPLS menjadi masa transisi penting bagi anak untuk beradaptasi dari lingkungan rumah menuju lingkungan sekolah
Menurutnya, proses adaptasi harus dilakukan secara menyenangkan agar anak merasa aman dan nyaman mengikuti kegiatan belajar.
“Tentunya kita harus memberikan ruang adaptasi kepada anak-anak agar mereka dapat mengenal berbagai kegiatan yang ada di sekolah,” katanya.
Kepala TK Negeri Pembina Subang, Cucu Fuadah, mengatakan MPLS dilaksanakan selama lima hari untuk mengenalkan lingkungan sekolah, tata tertib, hingga budaya belajar kepada peserta didik baru.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, TK Negeri Pembina menerima 75 peserta didik baru, sehingga total siswa yang belajar di sekolah tersebut kini mencapai 120 orang.
Melalui pengenalan nilai toleransi sejak usia dini, sekolah berharap anak-anak terbiasa menghargai keberagaman serta mampu membangun sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter tersebut dinilai menjadi bekal penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan sejak jenjang pendidikan paling awal.





