Ragam

Paripurna Istimewa HUT ke-78 Subang Hadirkan Drama Kolosal dan Pantun Buhun

×

Paripurna Istimewa HUT ke-78 Subang Hadirkan Drama Kolosal dan Pantun Buhun

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Subang dalam rangka Hari Jadi ke-78 tahun 2026 menghadirkan warna baru yang tak ditemukan pada peringatan tahun sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, sebuah drama kolosal bertajuk “Seba Rasa Ka Lemah Subang” akan dipentaskan sebagai bagian dari rangkaian acara resmi.

Acara diawali dengan pembacaan pantun buhun yang dipadukan dengan alunan kecapi oleh Maestro kecapi Jawa Barat asal Subang, Mang Ayi Sasmita, menghadirkan suasana sakral sekaligus kental dengan nuansa budaya lokal.

Ketua panitia pelaksana, Nugraha Wibawa, mengatakan, kehadiran drama kolosal menjadi upaya menghadirkan peringatan yang lebih bermakna dan menyentuh.

“Drama kolosal ini bukan sekadar hiburan, tapi menjadi medium untuk menyampaikan rasa syukur dan kecintaan masyarakat terhadap tanah kelahiran Subang,” ujarnya.

Drama kolosal tersebut merupakan garapan para seniman dari Dadak Sakala Entertainment, yang dikenal aktif mengangkat nilai-nilai budaya lokal dalam setiap pertunjukannya. Karya ini mengandung makna mendalam sebagai persembahan rasa syukur untuk tanah kelahiran, sekaligus merepresentasikan hubungan emosional masyarakat dengan daerahnya.

Berbeda dari tahun sebelumnya yang lebih berfokus pada seremoni formal, tahun ini DPRD Subang menghadirkan pendekatan yang lebih kultural dan reflektif. Nilai-nilai sejarah, budaya, serta rasa memiliki terhadap tanah Subang dituangkan dalam bentuk visual yang kuat dan naratif, menjadikan panggung bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga ruang perenungan bersama.

Rapat paripurna dijadwalkan berlangsung pada Senin, 6 April 2026. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan persiapan, dilanjutkan kehadiran tamu undangan pada pukul 08.30 WIB.

Agenda kemudian berlanjut dengan penyambutan Gubernur Jawa Barat dan Bupati Subang, pembukaan, pertunjukan seni, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Subang sebelum sidang resmi dibuka.

Dalam susunan acara tersebut, pembacaan sejarah singkat Hari Jadi Subang tetap menjadi bagian penting, namun dikemas lebih naratif dan diperkuat dengan pembacaan pantun sebagai sentuhan budaya.

Sambutan Bupati Subang dan Gubernur Jawa Barat menjadi penegas arah pembangunan daerah ke depan sebelum acara ditutup dengan doa, penutupan sidang, dan sesi foto bersama.

Suasana peringatan juga diperkuat dengan dekorasi kawasan DPRD yang tampil lebih megah. Di area kawasan DPRD tampak sejumlah janur kuning dipasang untuk mempercantik, serta puluhan umbul-umbul dengan logo Hari Jadi ke-78 Subang.

Hiasan kain motif kotak-kotak hitam putih yang melilit tiang-tiang gerbang menghadirkan nuansa tradisional yang kental, berpadu dengan latar taman hijau dan pencahayaan alami yang menciptakan kesan sakral sekaligus estetik.

Menurut Nugraha Wibawa, konsep tahun ini memang dirancang berbeda dari sebelumnya.
“Kami ingin peringatan Hari Jadi Subang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya dan rasa memiliki masyarakat terhadap Subang,” katanya.

Hadirnya drama kolosal “Seba Rasa Ka Lemah Subang” menjadi simbol perubahan arah peringatan Hari Jadi Subang. Jika sebelumnya lebih dominan seremoni, kini mulai bergeser menjadi perayaan identitas dan rasa memiliki—menghadirkan satu pesan kuat bahwa Subang bukan sekadar wilayah, tetapi tanah kelahiran yang layak disyukuri.