Ragam

Respon Kepala SMAN 2 Subang Usai Disidak Dedi Mulyadi

×

Respon Kepala SMAN 2 Subang Usai Disidak Dedi Mulyadi

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.COM — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMA Negeri 2 Subang, Rabu (1/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menyoroti kondisi lingkungan halaman sekolah yang dinilai kumuh dan kurang terawat.

Dalam sidak itu, Dedi Mulyadi melihat adanya kontras antara bagian dalam lingkungan sekolah dengan area depan. Bagian depan sekolah tampak rapi dengan penataan taman hingga halte yang dibangun oleh Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat, sementara area dalam sekolah dinilai belum tertata dengan baik.

Berdasarkan tayangan di akun YouTube pribadinya, Dedi Mulyadi juga menegaskan bahwa kebersihan sekolah seharusnya menjadi prioritas. Ia menilai tampilan depan yang rapi tidak cukup jika area lainnya masih terlihat kotor dan tidak terurus.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 2 Subang, Edi Sugandi, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan Gubernur Jawa Barat terhadap sekolahnya.

“Alhamdulillah Pak Gubernur sangat perhatian terhadap sekolah ini. Namun, mohon maaf kami belum bisa menata halaman sekolah ini sesuai keinginan beliau,” ujar Edi saat ditemui di ruang guru, Kamis (2/4/2026).

Edi juga menyampaikan bahwa pihak sekolah sebenarnya ingin memberikan penjelasan saat sidak berlangsung, namun tidak mendapat kesempatan.

“Kemarin juga sempat mau menjelaskan ke Pak Gubernur, tetapi tidak diberi kesempatan untuk bicara, bahkan saya disebutnya ngebantah,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi halaman sekolah dipengaruhi banyaknya pohon besar di area tersebut sehingga daun sering berguguran, terutama saat musim hujan dan angin kencang. Di sisi lain, jumlah petugas kebersihan terbatas.

“Kami hanya memiliki enam petugas kebersihan untuk menangani area sekolah seluas hampir 5 hektare,” ujarnya.

Meski demikian, kata Edi, pihak sekolah tetap menjalankan program kebersihan rutin, termasuk piket siswa di kelas serta program “Caraka” berupa kegiatan bersih-bersih halaman setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

Terkait penataan lingkungan, ia mengungkapkan keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Menurutnya, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak dapat digunakan untuk pembangunan fisik seperti pembuatan taman atau pemasangan paving block.

“Untuk prasarana penunjang pembelajaran hanya dialokasikan maksimal 20 persen dari dana BOS, sehingga hanya bisa digunakan untuk perbaikan ringan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah ruang kelas di sekolah tersebut juga dalam kondisi rusak dan belum dapat diperbaiki.

“Ada empat ruang kelas yang dibangun sekitar tahun 1970-an kondisinya rusak dan belum direhabilitasi. Kami sudah mengajukan bantuan, tetapi belum terealisasi,” ungkapnya.

Selain itu, sekolah juga menghadapi keterbatasan tenaga pengajar serta kendala operasional seperti pembayaran listrik yang harus ditanggulangi sementara oleh pihak sekolah.

“Kami juga kekurangan guru, namun tidak diperbolehkan merekrut. Di sisi lain, kebutuhan operasional seperti listrik tetap harus dipenuhi,” katanya.

Meski demikian, Edi menegaskan pihaknya tetap berkomitmen untuk terus berbenah. Ia juga menyampaikan apresiasi atas penataan yang telah dilakukan pemerintah provinsi di area depan sekolah.

“Alhamdulillah berkat ditata oleh Pak Gubernur, bagian depan SMAN 2 dan SMKN 2 menjadi lebih indah dengan adanya taman,” pungkasnya.

Sumber KOMPAS