Ragam

Sambut Ramadan dengan Lapang Dada, Ini Arti “Marhaban Ya Ramadan”

×

Sambut Ramadan dengan Lapang Dada, Ini Arti “Marhaban Ya Ramadan”

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam kerap mengucapkan kalimat “Marhaban Ya Ramadan” sebagai bentuk penyambutan. Namun, sebagian orang mungkin bertanya, mengapa para ulama lebih memilih ungkapan tersebut dibandingkan “Ahlan Wa Sahlan”, padahal keduanya sama-sama berarti “selamat datang”?

Dilansir dari laman Kalam SindoNews.com yang dikutip Rabu (18/2/2026), ahli tafsir Al-Qur’an, Muhammad Quraish Shihab, memberikan penjelasan terkait perbedaan makna dan penggunaan dua istilah tersebut. Dalam bukunya berjudul Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, ia menyebut bahwa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu, yang bermakna selamat datang. Sementara itu, “ahlan wa sahlan” juga memiliki arti yang sama dalam kamus, yakni selamat datang.

Meski secara harfiah keduanya serupa, penggunaannya ternyata berbeda. Quraish Shihab menjelaskan bahwa para ulama tidak menggunakan “ahlan wa sahlan” untuk menyambut Ramadan, melainkan memilih “marhaban ya Ramadan”.

Ia menguraikan bahwa kata “ahlan” berasal dari kata “ahl” yang berarti keluarga, sedangkan “sahlan” bersumber dari kata “sahl” yang bermakna mudah atau dataran rendah yang gampang dilalui, tidak seperti jalan mendaki. Dengan demikian, ungkapan “ahlan wa sahlan” secara tersirat mengandung makna bahwa tamu berada di tengah keluarga dan berada di tempat yang mudah dilalui.

Berbeda dengan itu, kata “marhaban” berasal dari akar kata “rahb” yang berarti luas atau lapang. Makna ini menggambarkan penyambutan dengan dada yang lapang, penuh kegembiraan, serta kesiapan menyediakan ruang yang luas bagi tamu untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama, lahir pula kata “rahbat” yang berarti ruangan luas bagi kendaraan untuk beristirahat atau memperbaiki kebutuhan sebelum melanjutkan perjalanan.

Karena itu, ungkapan “Marhaban Ya Ramadan” bukan sekadar ucapan selamat datang. Kalimat tersebut mencerminkan kesiapan menyambut bulan suci dengan hati yang terbuka dan penuh suka cita, bukan dengan keluhan atau anggapan bahwa kehadirannya mengganggu kenyamanan.

Quraish Shihab menggambarkan Ramadan sebagai momentum untuk mengasah dan membina jiwa raga dalam perjalanan menuju Allah SWT. Ia mengibaratkan perjalanan tersebut seperti mendaki gunung tinggi bernama nafsu. Di dalamnya terdapat lereng curam, semak belukar, ancaman perampok, hingga godaan iblis yang berusaha menghentikan langkah manusia.

Semakin tinggi pendakian, semakin berat pula ujian yang dihadapi. Namun, bila tekad tetap kuat, cahaya terang akan tampak di ujung perjalanan. Rambu-rambu jalan menjadi jelas, tersedia tempat berteduh yang indah, serta telaga jernih untuk melepas dahaga. Pada akhirnya, sang musafir akan menemukan kendaraan Ar-Rahman yang mengantarkannya bertemu dengan Allah SWT.

“Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin,” tutur Quraish Shihab.

Menurutnya, perjalanan spiritual tersebut tentu membutuhkan bekal. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang ditanam dalam jiwa, serta tekad kuat untuk menundukkan hawa nafsu. Dengan bekal itulah umat Islam diharapkan mampu menghidupkan malam-malam Ramadan dengan salat dan tadarus, serta mengisi siangnya dengan ibadah dan pengabdian bagi agama, bangsa, dan negara.

Wallahu A’lam.