SUBANG, TINTAHIJAU.com – Setiap tahunnya, umat Islam merayakan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. Namun, apakah kita benar-benar memahami sejarah Idul Adha dan asal-usul ibadah kurban yang menjadi bagian integral dari perayaan ini? Mari kita telusuri lebih dalam.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
Asal-usul ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah, Allah SWT mensyariatkan kurban untuk mengingatkan kita pada riwayat kedua nabi tersebut. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surat Ash-Shaffat ayat 102-107.
Nabi Ibrahim AS, setelah bertahun-tahun tidak memiliki anak, akhirnya dikaruniai seorang putra yang saleh dan sabar, yaitu Nabi Ismail AS. Ketika Ismail AS beranjak remaja, Allah SWT memberikan ujian berat kepada Nabi Ibrahim AS melalui sebuah mimpi. Dalam mimpi tersebut, Ibrahim AS diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya sebagai bentuk pengorbanan kepada Allah SWT.
Dengan hati yang berat, Nabi Ibrahim AS menyampaikan perintah Allah SWT kepada Ismail AS dan meminta pendapatnya. Nabi Ismail AS, dengan penuh kerendahan hati dan ketaatan, meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT tanpa ragu. Ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah SWT, Ibrahim AS mulai melaksanakan perintah tersebut dengan menelungkupkan Ismail AS, menghadapkannya ke tanah agar tidak melihat wajah putranya saat penyembelihan.
Namun, ketika Ibrahim AS mulai menghunus pisaunya, terdengar seruan dari Allah SWT yang menyatakan bahwa Ibrahim AS telah melaksanakan perintah-Nya. Ketulusan dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS telah membuktikan ketakwaan mereka kepada Allah SWT. Sebagai ganti penyembelihan Ismail AS, Allah SWT mengirimkan seekor kambing besar sebagai kurban.
Menurut buku Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir, kambing tersebut berasal dari surga dan pernah dikurbankan oleh Habil, putra Nabi Adam AS. Kambing itu diturunkan kepada Ibrahim AS dari Gunung Tsabir dan disembelih sebagai pengganti Ismail AS.
Dalil tentang Pelaksanaan Ibadah Kurban
Pelaksanaan Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahunnya identik dengan penyembelihan hewan kurban. Ibadah kurban ini disyariatkan Allah SWT melalui Surat Al-Kautsar ayat 2, yang berbunyi:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ – 2
Artinya: “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)!”
Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah RA juga menegaskan bahwa penyembelihan hewan kurban merupakan amalan utama di Hari Raya Idul Adha. Meskipun demikian, jumhur ulama sepakat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkad (sunah yang sangat dianjurkan).
Makna Idul Adha yang Sering Disebut Hari Raya Kurban
Menurut situs Kementerian Agama Buleleng, Idul Adha sering disebut Hari Raya Kurban karena pada hari tersebut dilakukan penyembelihan hewan kurban. Kata “Idul Adha” sendiri berasal dari bahasa Arab; “idul” atau id yang diambil dari kata “ada yaudu” yang berarti kembali, dan “adha” yang diambil dari kata “udhiyah” yang berarti kurban. Sehingga, Idul Adha disebut juga dengan hari raya penyembelihan kurban.
Selain itu, Idul Adha juga sering disebut dengan Lebaran Haji karena bertepatan dengan musim dilaksanakannya ibadah haji.
Demikianlah sejarah Idul Adha dan asal-usul ibadah kurban yang disyariatkan kepada umat Islam, yang berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Semoga pemahaman ini dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita dalam menjalankan ibadah kurban.





