MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com – Kesadaran masyarakat Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, dalam mengelola sampah terus meningkat. Hal itu terlihat dari kegiatan penimbangan massal yang digelar Bank Sampah Induk (BSI) Kecamatan Talaga di halaman Kantor Kecamatan Talaga, Jumat (3/7/2026), yang berhasil mengumpulkan sebanyak 648 kilogram sampah anorganik terpilah.
Sampah bernilai ekonomi tersebut berasal dari setoran Bank Sampah Unit (BSU) yang tersebar di 17 desa di Kecamatan Talaga. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi program EMAS PKK (Emak-Emak Kelola Bank Sampah Bareng PKK) dan Geber Jumat (Gerakan Bersih Jumat) yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Majalengka sebagai upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Camat Talaga, Agus Heriyanto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Pada kegiatan penimbangan hari ini, total sampah pilah yang berhasil terkumpul mencapai 648 kilogram. Ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen warga dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik serta ramah lingkungan,” ujar Agus saat memantau kegiatan.
Menurutnya, sistem pengelolaan sampah yang diterapkan dimulai dari proses pemilahan di tingkat rumah tangga. Sampah kering seperti plastik, kertas, logam, dan botol kemudian disetorkan ke BSU di masing-masing desa sebelum dikumpulkan di BSI tingkat kecamatan.
Selain membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS), mekanisme tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui sistem tabungan sampah.
“Melalui gerakan memilah sampah dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Semoga semakin banyak warga yang terlibat aktif dalam program ini,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Majalengka sendiri terus memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Saat ini terdapat sedikitnya 26 Bank Sampah Unit (BSU) yang aktif menjadi motor penggerak pemilahan sampah anorganik di berbagai wilayah.
Salah seorang nasabah BSU Desa Talaga Kulon, Siti Rohmah (42), mengaku program tersebut telah mengubah kebiasaan warga, khususnya kalangan ibu rumah tangga, dalam mengelola sampah.
“Awalnya memang repot harus memisahkan botol plastik, kardus, sama kaleng di dapur. Tapi sejak ada program EMAS PKK ini, emak-emak di desa jadi semangat. Sampah yang tadinya dibuang percuma, sekarang kalau ditimbang bisa jadi tabungan. Lumayan hasilnya bisa buat tambahan belanja atau ditabung untuk kebutuhan sekolah anak. Lingkungan rumah juga jadi lebih bersih,” ungkapnya.
Melalui program ini, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sekadar menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.





