Teknologi

Friendster Lahir Kembali, Bukan Sekadar Nostalgia dan Kini Wajib Bertemu Fisik untuk Berteman!

×

Friendster Lahir Kembali, Bukan Sekadar Nostalgia dan Kini Wajib Bertemu Fisik untuk Berteman!

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Bagi generasi yang tumbuh di era 2000-an, nama Friendster tentu memiliki tempat tersendiri di hati. Sebelum dominasi Facebook, Twitter (X), atau Instagram, Friendster adalah raja media sosial yang menemani masa muda banyak orang. Kini, kabar gembira datang bagi para pemburu nostalgia: Friendster resmi kembali menyapa dunia digital!

Namun, jangan harap Anda akan menemukan pengalaman yang sama dengan media sosial modern saat ini. Friendster versi baru yang dikembangkan oleh Friendster Labs Inc. hadir dengan konsep yang benar-benar mendobrak arus utama.

Tersedia secara terbatas bagi pengguna perangkat Apple, aplikasi ini tampil sangat efisien dengan ukuran hanya 6,5 MB. Keunggulan utamanya terletak pada kejujuran konten. Friendster menjanjikan beranda (feed) yang jauh lebih bersih tanpa gangguan iklan.

Hebatnya lagi, Friendster menghapus sistem manipulasi algoritma. Di sini, Anda hanya akan melihat unggahan dari teman-teman yang memang Anda kenal, tanpa intervensi konten viral atau rekomendasi akun asing yang seringkali mengganggu kenyamanan berselancar.

Salah satu gebrakan paling mencolok adalah dihapusnya angka jumlah pengikut (followers) di profil pengguna. Pemilik Friendster, Mike Carson, tampaknya ingin membuang budaya adu populer yang selama ini menjadi beban mental di media sosial lain. Di Friendster, nilai seorang individu tidak ditentukan oleh seberapa banyak angka di profil mereka.

Inilah keunikan yang paling kontroversial sekaligus menarik: Sistem pertemanan berbasis pertemuan fisik. Untuk menjalin pertemanan di aplikasi ini, Anda tidak bisa sekadar menekan tombol “Add” atau “Follow” dari jarak jauh.

Anda harus bertemu secara langsung di dunia nyata dan saling mengetukkan ponsel pintar secara bersamaan. Konsep ini sengaja diusung untuk memastikan bahwa orang-orang yang terhubung di aplikasi tersebut memang memiliki relasi nyata di kehidupan sehari-hari.

Kesan nyata semakin diperkuat dengan adanya sistem degradasi relasi. Jika Anda dan teman Anda tidak saling melakukan interaksi fisik (mengetuk ponsel dalam jarak dekat) setidaknya sekali dalam setahun, maka koneksi di aplikasi akan otomatis memudar.

“Ini bukan hukuman. Ini adalah sinyal halus bahwa persahabatan sejati harus dipupuk secara langsung, bukan secara online,” ungkap Mike Carson.

Kembalinya Friendster seolah menjadi tamparan bagi tren media sosial saat ini yang seringkali menjauhkan yang dekat. Dengan konsep yang unik ini, Friendster mencoba membawa kita kembali ke hakikat media sosial yang sebenarnya: alat untuk mempererat hubungan nyata, bukan sekadar ruang pamer digital.

Apakah Anda siap bertemu fisik demi sebuah “Approval” pertemanan? Bagaimanapun, Friendster telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar ingin bangkit, tapi ingin mengubah cara kita berinteraksi.