BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mengaku pesimistis terhadap kondisi industri perhotelan pada 2026. Bahkan, PHRI memperkirakan sektor perhotelan berpotensi mengalami defisit apabila tren penurunan tingkat keterisian kamar (okupansi) terus berlanjut.
Ketua PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi, mengatakan tingkat okupansi hotel di Jawa Barat, termasuk di Kota Bandung, mengalami penurunan sejak memasuki masa libur Tahun Baru 2025/2026. Pada periode libur tersebut, rata-rata okupansi hotel hanya berada di kisaran 70 persen.
“Kalau di hotel bintang bisa mencapai 80 sampai 90 persen okupansinya, apalagi di daerah ring satu seperti Asia-Afrika, Jalan Braga dan Dago, bisa mencapai 100 persen. Tapi kalau bicara hotel, kan tidak hanya di Braga saja. Di Bandung seperti yang saya sampaikan ada sekitar 300 hotel,” ujar Dodi, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, hotel-hotel yang berada di pusat keramaian dengan klasifikasi bintang empat dan lima masih mampu mencatat okupansi tinggi, bahkan penuh. Namun kondisi berbeda dialami hotel bintang empat di luar pusat kota yang rata-rata hanya mencatat okupansi 50–60 persen. Sementara hotel di wilayah pinggiran bahkan hanya mencapai 60 persen, dan sebagian hanya 50 persen.
Tak hanya Bandung, kondisi serupa juga terjadi di daerah penyangga seperti Bogor dan Cianjur. Di Bogor, tingkat keterisian hotel selama libur tahun baru hanya sekitar 70 persen. Di Cianjur, kondisinya lebih memprihatinkan dengan okupansi rata-rata 52 persen.
“Kalau tidak ada perubahan kebijakan di tahun ini, saya pesimis dengan kondisi industri perhotelan ke depan. Bahkan bisa defisit karena beban biaya operasional yang tidak tertutup,” kata Dodi.
Meski demikian, optimisme datang dari Pemerintah Kota Bandung. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustofa, menyebut jumlah kunjungan wisatawan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) melampaui estimasi awal.
Berdasarkan prediksi kepolisian dan data kendaraan yang masuk ke Kota Bandung, jumlah kunjungan wisatawan diperkirakan mencapai 4,5 juta orang. Penghitungan dilakukan sejak 25 Desember dan mencakup libur akhir pekan sebelumnya, dengan total periode pengamatan sekitar 10 hari.
“Data awal menunjukkan tren yang baik. Realisasi kunjungan wisatawan selama Nataru jauh lebih tinggi dari target awal yang sebelumnya diproyeksikan sekitar 2,6 juta,” ujar Adi.
Ia menambahkan, lonjakan wisatawan turut berdampak pada tingkat hunian hotel. Dari 115 hotel yang dipantau Disbudpar, beberapa hotel di kawasan pusat kota seperti sekitar Alun-alun mencatat okupansi hingga 100 persen. Sementara hotel yang berlokasi lebih jauh dari pusat kota mencatat tingkat hunian berkisar 60–80 persen.
Adi menilai, Kota Bandung masih menjadi alternatif pilihan wisata karena akses yang mudah, terutama bagi wisatawan asal Jabodetabek. Ke depan, Disbudpar akan menggunakan metode perhitungan yang lebih komprehensif untuk memproyeksikan target kunjungan wisata secara lebih presisi.





