Megapolitan

Dika, Bocah Penakluk Ular dari Banjaran yang Viral di Media Sosial

×

Dika, Bocah Penakluk Ular dari Banjaran yang Viral di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

BANJARAN, TINTAHIJAU.com — Sosok seorang bocah bernama Dika mendadak menjadi sorotan publik setelah video aksinya menangkap dan menjual ular viral di media sosial. Bocah asal Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, itu dikenal tidak takut berinteraksi dengan ular-ular liar yang bagi kebanyakan orang dianggap berbahaya.

Dalam sejumlah video yang beredar, Dika tampak membawa ular hasil tangkapannya kepada seorang pria di kampungnya yang juga merupakan konten kreator. Setiap kali Dika datang membawa ular, aksinya direkam dan diunggah ke media sosial hingga menarik perhatian warganet. Tak jarang, ular-ular tersebut melingkar di tubuh Dika atau disimpan di dalam bajunya, membuat sang perekam konten terkejut sekaligus kagum.

Keberanian Dika semakin mencuri perhatian karena ia mengetahui berbagai jenis ular yang ditangkapnya, mulai dari ular sanca, ular sapi, ular koros, hingga ular pucuk. Ular-ular itu kemudian dijual dengan harga sekitar Rp50.000 per ekor untuk menambah uang jajan yang sebagian juga dibagikan kepada saudara-saudaranya.

Di balik viralnya aksi tersebut, terungkap kisah hidup pilu bocah bernama lengkap Muhammad Nandika Saepulloh itu. Dika yang kini berusia 10 tahun tinggal bersama ibunya, Reka Noviyanti (25), di rumah sederhana di Kampung Dangdeur, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran. Sehari-hari, Dika tidak bersekolah seperti teman-teman sebayanya karena telah putus sekolah selama dua tahun.

Menurut sang ibu, Dika berhenti sekolah saat duduk di kelas 3 SD lantaran kerap mengalami perundungan. “Kemarin berhenti sekolah karena ada yang bully,” ujar Reka Noviyanti, dikutip dari tayangan YouTube Dedi Mulyadi, Kamis (1/1/2026). Seharusnya, Dika kini sudah duduk di bangku kelas 5 SD.

Aksi Dika bahkan menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengundangnya ke kediaman di Lembur Pakuan, Subang. Dari pertemuan tersebut, terungkap bahwa keberanian Dika menangkap ular berangkat dari hobi yang telah ditekuninya selama setahun terakhir.

Dika mengaku awal mula hobi tersebut bermula saat ia sedang mencari belut di sawah. Namun, yang tertangkap justru seekor ular belang. Sejak saat itu, Dika terbiasa berburu ular di sekitar sawah dekat rumahnya, khususnya pada hari Minggu. Dalam sehari, ia bisa menangkap hingga empat ekor ular.

Meski mengaku sudah beberapa kali digigit ular di bagian telinga, tangan, dan kaki, Dika mengatakan tidak merasakan sakit yang berarti. Bekas luka gigitan pun masih terlihat di tubuhnya, namun hal itu tidak menyurutkan minatnya untuk terus menangkap ular.

Keberanian Dika dibarengi dengan pengetahuan tentang jenis ular berbahaya. Ia mengaku diajari untuk tidak menangkap ular berbisa seperti kobra dan weling. Meski demikian, kekhawatiran tetap dirasakan sang ibu. Reka mengaku sering melarang dan memarahi Dika karena takut anaknya salah menangkap ular berbisa. Namun, ia kini hanya bisa mengingatkan agar Dika selalu berhati-hati.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Dika dikenal aktif dan lebih menyukai bermain di luar dibandingkan bermain gawai. Selain ular, ia juga kerap menangkap biawak dan hewan liar lainnya, meski tak ada satu pun anggota keluarganya yang memiliki kemampuan serupa.

Kini, seiring viralnya kisah tersebut, Dika mendapat julukan baru dari warganet, yakni “Dika Oray” atau Dika Ular. Sang ibu berharap, perhatian publik terhadap anaknya bisa menjadi titik balik kebaikan, sekaligus membuka jalan agar Dika dapat kembali mengenyam pendidikan formal.