GARUT, TINTAHIJAU.com — Hari pertama masuk sekolah usai libur panjang diwarnai aksi turun ke jalan oleh ratusan siswa SMA Yayasan Baitul Hikmah Al Mamun (YBHM), Jalan Otista, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Senin (12/11). Mereka tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) lantaran akses masuk sekolah digembok oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan.
Akibat penggembokan tersebut, ratusan siswa terpaksa berada di luar lingkungan sekolah sejak pagi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA YBHM Garut, Iwan Ridwan, mengatakan penggembokan dilakukan oleh seorang pengusaha yang mengklaim memiliki lahan tempat bangunan sekolah berdiri.
“Ya, tidak bisa masuk sekolah karena ada penggembokan oleh pengusaha yang merasa sudah memiliki seluruh tanah sekolah ini,” ujar Iwan.
Menurutnya, akses masuk ke lingkungan sekolah telah ditutup sejak beberapa waktu lalu. Selama masa libur, siswa dan guru memang tidak beraktivitas di sekolah. Namun, saat hari pertama masuk sekolah, kondisi tersebut masih berlangsung sehingga KBM tidak dapat dilaksanakan.
Iwan menjelaskan, sengketa lahan sebenarnya telah berlangsung cukup lama, bahkan bertahun-tahun. Konflik kembali memanas setelah adanya pembentangan klaim kepemilikan lahan pada 2025 lalu. Pihak sekolah sempat mengira telah ada kesepakatan antara yayasan dan pihak pengusaha sehingga kegiatan belajar mengajar bisa berjalan normal.
“Namun pas datang ke sekolah ternyata masih digembok,” katanya.
Akibat kejadian ini, sebanyak 138 siswa SMA kelas X, XI, dan XII terdampak dan tidak dapat mengikuti pembelajaran. “Yang terdampak itu SMA saja, jumlahnya 138 siswa. Kalau SMP tidak digembok,” ujar Iwan.
Pihak sekolah sebelumnya telah berupaya mencari solusi dengan melapor ke Pemerintah Kabupaten Garut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga ke tingkat pusat. Namun hingga kini belum ada kejelasan penyelesaian. “Kami guru-guru tidak bisa apa-apa,” ucapnya.
Terkait proses pembelajaran, pihak sekolah masih berkoordinasi untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan memindahkan siswa ke sekolah lain atau melaksanakan pembelajaran secara daring. Sekolah berharap aktivitas belajar mengajar bisa kembali normal dalam waktu dekat.
Sementara itu, pihak pengusaha yang mengklaim kepemilikan lahan menyebutkan bahwa hal tersebut masih dalam proses pertimbangan. Ia meminta agar berbagai pihak tetap berkoordinasi dan mengimbau orang tua siswa untuk tetap tenang.
“Kita terus berkoordinasi dengan orang tua siswa. Tenang saja, sekolah ini masih ada,” ujarnya.
Di sisi lain, kesedihan dirasakan para siswa. Cantika (17), siswi kelas XII SMA YBHM, mengaku sedih dan bingung dengan kondisi tersebut. Menurutnya, siswa hanya ingin belajar dan menuntut ilmu tanpa harus terlibat persoalan sengketa.
“Kami ingin sekolah lagi, bisa belajar lagi. Kami mau lulus, apalagi adik-adik kami masih panjang jalannya,” katanya.





