JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Upaya pemerintah meningkatkan kualitas hunian masyarakat terus digencarkan melalui program gentengisasi. Program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mendorong standar hidup yang lebih layak, sehat, dan ramah lingkungan bagi warga Indonesia.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Wamen PKP) Fahri Hamzah mengatakan, gentengisasi bukan sekadar pergantian material bangunan, melainkan ajakan kolektif bagi masyarakat untuk menuju kualitas hidup yang lebih baik. Standar tersebut mencakup hunian yang nyaman, asri, bersih, dan sehat.
“Ini sebuah manifesto untuk mengajak seluruh bangsa memiliki standar hidup yang lebih baik, yakni nyaman, asri, sehat, dan bersih,” ujar Fahri Hamzah dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Fahri, keempat aspek tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi rumah, tetapi juga kualitas lingkungan dan kehidupan penghuninya. Oleh karena itu, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi fisik bangunan rumah, terutama pada bagian atap yang berpengaruh langsung terhadap kenyamanan hunian.
Ia menyoroti masih maraknya penggunaan atap seng di sejumlah permukiman warga. Berdasarkan pengamatannya, material tersebut membuat suhu di dalam rumah menjadi lebih panas sehingga mengurangi kenyamanan penghuni. Sebaliknya, penggunaan genteng dinilai mampu menciptakan suasana rumah yang lebih sejuk dan layak huni.
“Orang itu kalau tinggal di bawah seng itu panas,” katanya.
Selain berdampak pada kualitas hidup, Fahri menilai program gentengisasi berpotensi mendorong pertumbuhan sektor industri dalam negeri. Saat ini, produksi genteng dan bata merah sebagian besar masih digerakkan oleh industri berbasis masyarakat dan usaha lokal.
Ia menyebutkan, pemerintah tetap membuka peluang bagi industri besar untuk terlibat dalam proses industrialisasi. Namun, di saat yang sama, keberlangsungan industri rakyat dan pelaku usaha kecil menengah juga menjadi perhatian utama.
“Kalau bicara industrialisasi, silakan industri besar masuk. Tapi saya juga ingin industri masyarakat tetap tumbuh,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto. Ia menilai pengurangan penggunaan atap seng merupakan langkah yang tepat dalam penataan hunian. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa implementasi kebijakan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan.
“Keunggulan seng sebenarnya hanya pada harga yang murah dan pemasangan yang mudah. Namun, kekurangannya cukup signifikan karena menimbulkan panas,” kata Teguh.
Ia memahami alasan masyarakat memilih seng sebagai atap rumah, terutama karena faktor ekonomi dan kemudahan pemasangan. Namun, dari sisi estetika dan kesehatan, penggunaan seng—khususnya yang berkualitas rendah—dinilai kurang ideal.
“Selain cepat berkarat, kondisi ini juga kurang sehat dan berpengaruh pada kenyamanan hunian,” ujarnya.
Sumber: RRI.co.id





