JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Sebuah situs baru bernama Jikipedia muncul di internet sebagai tiruan konsep ensiklopedia daring yang memanfaatkan arsip email milik Jeffrey Epstein untuk menyusun profil rinci sejumlah tokoh yang pernah berhubungan dengannya.
Platform ini digagas oleh tim yang sebelumnya memperkenalkan Jmail, yakni layanan yang merangkum dokumen email Epstein dalam tampilan menyerupai Gmail. Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi ensiklopedia digital yang menyajikan “dossier” berbasis korespondensi. Belakangan, nama Jikipedia resmi diubah menjadi The Jmail Encyclopedia.
Di dalam situs tersebut, setiap halaman memuat ringkasan relasi Epstein dengan berbagai individu. Data yang ditampilkan meliputi jumlah email yang saling dipertukarkan, catatan kunjungan ke sejumlah properti miliknya, hingga dugaan sejauh mana pihak tertentu mengetahui aktivitas kriminal yang pernah dikaitkan dengannya.
Tak hanya memuat profil individu, platform ini juga menyediakan halaman khusus terkait aset-aset Epstein, seperti Zorro Ranch, Palm Beach Estate, dan Little St. James. Pada laman tersebut dijabarkan bagaimana properti diperoleh serta aktivitas yang diduga berlangsung di lokasi-lokasi tersebut.
Situs itu turut mengulas jaringan bisnis Epstein, termasuk hubungannya dengan institusi keuangan besar seperti JPMorgan Chase, sebagaimana dikutip dari The Verge, Minggu (15/2/2026).
Meski tampil meyakinkan dengan rujukan dan sumber yang dicantumkan, seluruh konten di dalamnya disusun menggunakan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Artinya, tetap ada kemungkinan terjadinya kekeliruan data maupun interpretasi yang kurang tepat.
Melalui akun resminya di platform X, Jmail menyatakan akan segera menghadirkan fitur yang memungkinkan pengguna melaporkan ketidakakuratan serta mengajukan koreksi atas informasi yang dipublikasikan.
Kemunculan Jikipedia menjadi contoh terbaru pemanfaatan AI untuk mengolah dokumen publik berskala besar menjadi laporan yang lebih ringkas dan mudah dipahami. Namun di sisi lain, pendekatan tersebut juga memunculkan perdebatan terkait etika, akurasi, serta potensi pencemaran nama baik ketika teknologi digunakan untuk menyusun profil individu dalam perkara sensitif.





