Teknologi

Iran Pamer Kekuatan Rudal Usai Serangan AS-Israel, Ini Deretan Senjata Andalannya

×

Iran Pamer Kekuatan Rudal Usai Serangan AS-Israel, Ini Deretan Senjata Andalannya

Sebarkan artikel ini
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: Iran's Presidential website/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS/File Photo Purchase Licensing Rights

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah memanas setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat senior pemerintahan di Teheran.

Pemerintah Iran segera merespons dengan menyatakan bahwa langkah balasan akan diarahkan kepada Israel serta lokasi militer yang berkaitan dengan Amerika Serikat di berbagai wilayah, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi tempat penempatan pasukan AS.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya memiliki hak untuk membalas kematian Khamenei dan pejabat tinggi lainnya. Ia menyebut pembalasan tersebut sebagai “tugas dan hak sah” Iran sebagai sebuah negara.

Di tengah sorotan terhadap kekuatan militer Amerika Serikat, Iran sebenarnya juga memiliki persenjataan yang dinilai cukup kuat, terutama dalam bidang rudal. Program rudal Iran bahkan kerap disebut sebagai salah satu yang terbesar dan paling beragam di kawasan Timur Tengah.

Rudal Balistik Jadi Tulang Punggung

Analis pertahanan menilai kekuatan rudal merupakan elemen penting dalam strategi militer Iran. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi angkatan udara negara tersebut yang masih mengandalkan pesawat-pesawat lama.

Melalui program rudalnya, Iran memiliki kemampuan menjangkau target yang cukup jauh. Beberapa rudal balistiknya bahkan mampu meluncur hingga 2.000 hingga 2.500 kilometer, jarak yang cukup untuk mencapai Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Rudal Jarak Pendek

Iran memiliki rudal balistik jarak pendek dengan kemampuan menjangkau sekitar 150 hingga 800 kilometer. Senjata ini dirancang untuk menyerang target militer di wilayah terdekat dengan respons yang cepat.

Beberapa sistem yang termasuk dalam kategori ini antara lain varian Fateh seperti Zolfaghar, Qiam-1, serta rudal generasi lama Shahab-1 dan Shahab-2. Rudal-rudal tersebut dapat diluncurkan secara beruntun sehingga memperpendek waktu peringatan bagi lawan.

Taktik serupa pernah digunakan Iran pada Januari 2020 ketika mereka menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Ain al-Assad di Irak, sebagai respons atas kematian jenderal Iran Qassem Soleimani. Serangan itu dilaporkan merusak infrastruktur pangkalan dan menyebabkan lebih dari 100 personel AS mengalami cedera otak traumatis.

Rudal Jarak Menengah

Selain rudal jarak pendek, Iran juga mengembangkan rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan sekitar 1.500 hingga 2.000 kilometer. Sistem ini dinilai menjadi faktor penentu dalam strategi pertahanan negara tersebut.

Beberapa jenis rudal yang termasuk dalam kategori ini antara lain Shahab-3, Emad, Ghadr-1, Khorramshahr, serta Sejjil. Iran juga memperkenalkan desain yang lebih baru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.

Rudal Sejjil menjadi salah satu yang menonjol karena menggunakan bahan bakar padat, yang memungkinkan kesiapan peluncuran lebih cepat dibandingkan sistem berbahan bakar cair. Hal ini memberi keuntungan bagi Iran dalam merespons kemungkinan serangan mendadak.

Dengan jangkauan tersebut, sejumlah wilayah strategis di kawasan Timur Tengah, termasuk fasilitas militer Amerika Serikat di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab berada dalam jangkauan sistem rudal Iran.

Rudal Jelajah dan Drone

Selain rudal balistik, Iran juga mengembangkan rudal jelajah yang mampu terbang rendah mengikuti kontur medan. Karakteristik ini membuatnya lebih sulit dideteksi oleh sistem pertahanan udara.

Beberapa rudal jelajah yang dimiliki Iran antara lain Soumar, Ya-Ali, Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad. Salah satu yang paling menonjol adalah Soumar yang diperkirakan memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer.

Iran juga memanfaatkan drone sebagai bagian dari strategi militernya. Meskipun kecepatannya lebih rendah dibandingkan rudal, drone dinilai lebih murah dan dapat diluncurkan dalam jumlah besar.

Penggunaan drone secara bergelombang diyakini dapat membebani sistem pertahanan udara lawan serta menjaga tekanan terhadap target seperti bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi dalam waktu lama.

“Kota Rudal” Bawah Tanah

Selain jenis senjata, faktor penting lain adalah kemampuan Iran mempertahankan stok dan sistem peluncuran rudalnya dalam jangka panjang. Untuk itu, Teheran telah membangun jaringan fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai “kota rudal”.

Fasilitas ini berupa terowongan penyimpanan, pangkalan tersembunyi, serta lokasi peluncuran yang terlindungi di berbagai wilayah negara tersebut. Infrastruktur ini dirancang agar persenjataan tetap aman sekaligus memungkinkan Iran terus melancarkan serangan meski berada di bawah tekanan militer.