Ragam

Menghidupkan Malam Lilikuran, Tradisi Sedekah dan Kehangatan Iktikaf Masyarakat Sunda

×

Menghidupkan Malam Lilikuran, Tradisi Sedekah dan Kehangatan Iktikaf Masyarakat Sunda

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan 2026, masyarakat Sunda kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Malam Lilikuran. Istilah ini merujuk pada malam-malam ganjil di penghujung bulan suci, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29, yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatulqadar.

Berbeda dengan tren iktikaf masa kini yang sering dilakukan penuh selama sepuluh hari, secara tradisional orang Sunda mengkhususkan ibadah diam di masjid pada malam-malam ganjil tersebut. Suasana surau dan musala pun mendadak lebih semarak dibandingkan malam lainnya.

Amunisi Ibadah: Ulen Goreng dan Teh Tubruk

Kekhusyukan ibadah di malam ganjil ini tidak lepas dari dukungan logistik yang unik. Menjelang tengah malam, suasana masjid biasanya dihangatkan dengan kedatangan warga yang membawa hantaran makanan. Menu yang paling ikonik adalah ulen (uli)—olahan beras ketan tumbuk yang digoreng—lengkap dengan cocolan sambal oncom dan teko berisi teh tubruk hangat yang wangi.

Sajian ini bukan sekadar kudapan, melainkan “amunisi” agar para jemaah tetap terjaga dan bersemangat melaksanakan zikir serta doa sepanjang malam. Tradisi berkirim makanan ini kini berkembang lebih beragam; mulai dari kopi, bajigur, hingga nasi lengkap dengan lauk-pauk bagi masjid yang memiliki jemaah dengan ekonomi lebih mapan.

Filosofi Sedekah dan Harapan Lailatulqadar

Tradisi lilikuran tidak hanya terbatas di dalam masjid. Menurut R. Akip Prawira Soeganda dalam bukunya Upacara Adat di Pasundan (1982), momen ini juga menjadi ajang saling kirim makanan antar-tetangga. Warga kerap memasang lampu hias dan berbagi kue-kue sebagai simbol suka cita menyambut malam kemuliaan.

Tujuannya mulia: dengan tersedianya makanan di masjid, para jemaah bisa langsung bersantap sahur tanpa harus pulang ke rumah untuk memasak. Hal ini memungkinkan mereka untuk beriktikaf lebih lama dalam upaya meraih pahala Lailatulqadar.

Irisan Budaya dengan Mataram Islam

Secara historis, tradisi lilikuran di tanah Pasundan memiliki kemiripan dengan tradisi Selikuran di wilayah Jawa Tengah, peninggalan era Kerajaan Mataram Islam. Di wilayah seperti Gunung Kidul, tradisi ini dirayakan dengan kenduri bersama di mana makanan dikumpulkan sejak sore hari untuk disantap saat berbuka puasa sekaligus menandai masuknya malam ke-21.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Kelurahan Bendung, Kabupaten Gunung Kidul:

“Masyarakat Jawa memperingati ‘Selikuran’ dengan acara kenduri bersama-sama. Di dalam tradisi kenduri ini terdapat beberapa nilai positif yang bisa kita ambil hikmahnya di antaranya, silaturahmi dan bersedekah. Makanan yang telah disiapkan dari rumah dikumpulkan jadi satu tempat baru diberikan sebagai ta’jil.”

Kombinasi antara ibadah yang khusyuk dan semangat berbagi makanan ini menjadikan malam-malam terakhir Ramadan di Jawa Barat selalu terasa hangat, penuh kebersamaan, dan bermakna mendalam bagi setiap generasi.