JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang berdasarkan hasil Sidang Isbat telah ditetapkan jatuh pada esok hari, Sabtu, 21 Maret 2026, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat Islam akan esensi sebenarnya dari hari kemenangan.
Wakil Ketua Umum MUI, Muhammad Cholil Nafis, menyerukan agar nilai-nilai luhur yang telah dilatih selama sebulan penuh tidak memudar begitu saja setelah bulan suci berakhir. Menurutnya, Idulfitri bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk terus menerapkan kebaikan dalam keseharian.
1. Merawat Kebersamaan dan Kedamaian Sosial
Bulan puasa selalu menghadirkan kehangatan sosial melalui ibadah berjamaah dan momen berbuka bersama. Cholil berharap keharmonisan ini bisa menjadi fondasi untuk menciptakan lingkungan yang damai dan saling mendukung di bulan-bulan selanjutnya.
“Dalam waktu singkat ini mari kita pelihara kebersamaan kita selama di bulan Ramadan yang kondusif dengan ibadah dan kekhusukan kita dan kita pelihara di 11 bulan berikutnya,” ujarnya.
2. Mempertahankan Sikap Pengendalian Diri
Selain memupuk kepedulian sosial, puasa juga mendidik umat untuk mengekang hawa nafsu. Pelajaran untuk tidak bersikap konsumtif dan berlebihan—bahkan terhadap hal-hal yang dihalalkan sekalipun—sepatutnya menjadi gaya hidup yang melekat sepanjang tahun.
“Bagaimana kita ini melatih diri, bagaimana kita tidak berlebihan mengkonsumsi. Yang halal pun kita tidak makan, apalagi yang haram,” kata Cholil.
3. Zakat dan Sedekah sebagai Bukti Keimanan
Momen Lebaran juga sangat erat kaitannya dengan kewajiban menunaikan zakat untuk menjaga keseimbangan ekonomi di masyarakat.
“Pada bulan akhir Ramadan ini ada kewajiban zakat fitrah bagi kita, bagi tubuh kita dan juga yang punya harta satu tahun juga berzakat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar menunaikan kewajiban, Cholil menekankan bahwa inisiatif untuk terus bersedekah dan membantu sesama adalah cerminan sesungguhnya dari keimanan.
“Maka biasakan kita berbagi di antara kita, karena bagi kita yang mu’min, orang bersedekah itu bukti kalau kita beriman,” ucapnya.
4. Menilai Keberhasilan Ibadah Ramadan
Pada akhirnya, tolok ukur kesuksesan ibadah seseorang di bulan suci ini tidak hanya dilihat dari pelaksanaannya di saat itu saja, melainkan sejauh mana dampaknya terasa di kehidupan mendatang. Idulfitri merupakan pintu gerbang baru untuk memperbaiki diri serta menyeimbangkan kepentingan spiritual dan sosial manusia.
“Menjaga kebiasaan kita di bulan Ramadan, diteruskan pada 11 bulan berikutnya, menunjukkan bahwa Ramadan kita ini diterima oleh Allah SWT,” katanya.





