Megapolitan

Eks Anggota UNIFIL Ungkap Pelanggaran Israel, Sering Sulut Konflik dan Langgar Resolusi PBB 1701

×

Eks Anggota UNIFIL Ungkap Pelanggaran Israel, Sering Sulut Konflik dan Langgar Resolusi PBB 1701

Sebarkan artikel ini
Anggota pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) tampak di wilayah Lebanon yang berbatasan dengan Israel, dilihat dari Israel, Kamis (2/7/2023). (Sumber: AP Photo/Ariel Schalit)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Mantan personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) periode 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, membeberkan dinamika berbahaya yang dihadapi pasukan perdamaian di Lebanon. Ia menyebut pihak Israel kerap mengabaikan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 yang menjadi dasar gencatan senjata di wilayah tersebut.

Seperti yang dikutip dari program Kompas Malam KompasTV, Minggu (5/4/2026), Muhtar mengungkapkan bahwa ketegangan sering kali dipicu oleh aktivitas pengintaian udara yang dilakukan oleh militer Israel. Menurutnya, penggunaan pesawat nirawak atau drone menjadi ancaman konstan bagi kedaulatan wilayah sekaligus keselamatan petugas internasional.

“Sudah barang tentu drone ini diterbangkan oleh Israel. Selain untuk memantau kegiatan masyarakat Lebanon, mereka juga melakukan plotting dan mapping posisi atau titik-titik koordinat pasukan PBB yang sedang bertugas,” jelas Muhtar.

Risiko di Tengah Garis Api

Kesaksian ini muncul di tengah duka nasional atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian baru-baru ini. Muhtar menegaskan bahwa penugasan di Lebanon memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi karena posisi pasukan berada tepat di tengah-tengah dua blok yang berkonflik.

Meskipun setiap personel dibekali dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Rules of Engagement (aturan keterlibatan) yang ketat, situasi di lapangan sering kali tidak terduga. Namun, ia menekankan bahwa sebagai pasukan penjaga perdamaian, TNI harus tetap pada posisi netral.

“Misi kita murni menjaga perdamaian. Kita tidak boleh memihak, baik ke Israel maupun Lebanon. Fokus utamanya adalah bagaimana supaya perdamaian berdasarkan Resolusi 1701 tanggal 11 Agustus 2006 betul-betul dijalankan oleh kedua belah pihak,” tambahnya.

Pelanggaran Resolusi 1701

Berdasarkan data dari laman resmi PBB, Resolusi 1701 sebenarnya dirancang untuk mengakhiri permusuhan antara kelompok Hizbullah dan Israel. Inti dari resolusi tersebut adalah pembentukan zona penyangga yang bebas dari personel bersenjata selain pasukan UNIFIL dan tentara resmi Lebanon.

Namun, pengakuan Muhtar mengenai masuknya drone Israel menunjukkan adanya tantangan besar dalam implementasi resolusi tersebut. Aktivitas pemetaan koordinat pasukan PBB oleh pihak luar dianggap sebagai risiko serius yang dapat mengancam keselamatan personel di lapangan.

Menutup pernyataannya, Muhtar menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI. Ia mengingatkan bahwa pengorbanan tersebut merupakan bukti nyata beratnya mandat menjaga stabilitas di salah satu titik paling panas di dunia.