TANGERANG, TINTAHIJAU.com — Kesaksian memilukan datang dari Herman Budianto Sudarsono, warga negara Indonesia (WNI) asal Ponorogo yang menjadi relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Pasca-mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (24/5/2026) sore, Herman membongkar kebrutalan militer Israel (Israeli Occupation Forces/IOF) yang menyiksa ratusan aktivis sipil dari 52 negara selama empat hari masa penahanan.
“Penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IOF itu nyata. Sangat keji, sangat brutal, dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang kurang lebih empat hari melakukan penyiksaan-penyiksaan tadi,” kata Herman di Bandara Soekarno-Hatta, seperti yang dilansir dari laman KOMPAS.tv, Minggu (24/5/2026).
Menurut Herman, para relawan dipaksa tunduk dalam kondisi ruang tahanan yang buruk. Mereka dipaksa tidur di atas lantai penjara yang dingin tanpa selimut dengan pakaian yang masih basah kuyup.
“Belum lagi hal-hal yang lain terkait kondisi ketika kita dipenjara dan seterusnya, diperlakukan seperti hewan. Kami harus berjalan merangkak dengan lutut kami. Kami harus berjalan dengan selalu menunduk, tidak boleh menatap mereka,” ucapnya.
Dampak tindakan represif tersebut sangat fatal. Herman menyaksikan ratusan relawan mengalami cedera berat akibat hantaman tentara Israel, mulai dari patah tulang hingga luka tembak. Tidak hanya itu, ia membeberkan adanya tindakan kekerasan seksual selama proses interogasi.
“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat. Rusuk patah, ada sekitar 40 orang patah tangan, patah kaki, ada yang ditembak, dan seterusnya. Bahkan banyak juga kasus-kasus seksual diterima oleh baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut,” ucapnya.
Herman menegaskan kebrutalan ini menimpa seluruh aktivis tanpa pandang bulu, termasuk relawan dari Amerika Serikat dan Prancis. Kendati mengalami trauma berat, Herman menyatakan tetap rendah hati dan berharap insiden ini dapat semakin menggelorakan semangat solidaritas global.
“Kami ini hanya debu-debu yang bertebaran yang tentu tidak patut untuk berbangga, tidak patut untuk menjadi orang yang merasa penting. Tapi mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina di seluruh dunia,” kata Herman.
Kesaksian langsung ini sekaligus memperkuat laporan Menteri Luar Negeri RI Sugiono sebelumnya yang menyatakan bahwa sejumlah relawan WNI tiba di tanah air dalam kondisi mengalami trauma fisik akibat tindakan ilegal militer Israel.





