Ragam

Lingkaran Setan Pinjol, Mengapa Kita Terjebak dan Bagaimana Cara Waras untuk Keluar

×

Lingkaran Setan Pinjol, Mengapa Kita Terjebak dan Bagaimana Cara Waras untuk Keluar

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Berawal dari satu-dua kali klik, ribuan orang berakhir terjebak dalam lingkaran utang yang mencekik. Satgas Anti Rentenir Kota Bandung mencatat lebih dari 17.000 aduan dalam empat tahun terakhir—artinya ada sekitar 2.000 kasus baru setiap tahunnya. Banyak yang stres dan tertekan, namun peluang untuk bangkit selalu ada.

7 Langkah Taktis Keluar dari Jeratan Pinjol

Menurut Saji Sonjaya, Ketua Satgas Anti Rentenir Kota Bandung, korban pinjol sangat bisa pulih asalkan mengambil langkah yang tepat dan realistis. Berikut panduan teknisnya:

  • 1. Setop Gali Lubang Tutup Lubang! Komitmen utama adalah berhenti mencari pinjaman baru. Banyak korban punya puluhan aplikasi karena mindset keliru: membayar utang lama dengan utang baru. “Jangan ada mindset bisa melunasi utang dengan membuka utang baru. Pasti beranak,” tegas Saji.
  • 2. Utang Bukan Aib, Perkuat Mental Rasa malu sering kali membuat korban mengambil keputusan impulsif. Ingat, utang adalah masalah finansial yang harus diselesaikan, bukan aib sosial yang bikin Anda harus bersembunyi.
  • 3. Ambil Langkah Pertama: Broadcast Kontak Jangan tunggu data Anda disebarkan oleh debt collector (DC). Sebelum mereka mengintimidasi, kirim pesan siaran ke seluruh kontak Anda.Contoh Pesan: “Saya mempunyai utang kepada pinjol, saat ini sedang tahap penanganan. Jika ada tagihan dalam bentuk apa pun mohon diabaikan.”
  • 4. Audit Finansial (Catat & Hapus Aplikasi) Tulis semua nama aplikasi, jumlah pinjaman, dan tanggal jatuh tempo agar Anda tahu kondisi riil keuangan Anda. Jika ada dana, langsung bayar secara terencana. Setelah itu, hapus aplikasi yang tidak digunakan.
  • 5. Putus Akses Teror Ganti nomor telepon dan perangkat handphone Anda. Ini langkah krusial untuk mengurangi tekanan psikologis dari pesan singkat atau telepon intimidatif yang masuk bertubi-tubi.
  • 6. Tolak Negosiasi Lewat Telepon Jangan ambil keputusan terburu-buru di bawah tekanan telepon. Arahkan semua proses penagihan untuk bertemu langsung (nego di darat). Jangan membayar sepeser pun sebelum ada kesepakatan angka yang logis dan sesuai kemampuan.
  • 7. Rawat Optimisme Sisi psikologis tidak kalah penting. Jaga harapan bahwa badai finansial ini pasti bisa dilalui agar Anda bisa berpikir jernih.

Mengapa Kita Terjebak? Mengupas Sisi Psikologis

Keluar dari pinjol baru menyelesaikan setengah masalah. Setengahnya lagi adalah memastikan kita tidak masuk ke lubang yang sama. Psikolog Ilmi Hatta membedah akar masalah mengapa masyarakat rentan terjebak:

1. Belanja sebagai Coping Mechanism

Banyak orang berutang atau belanja impulsif sebagai pelarian dari stres. “Belanja adalah pelarian karena hormon dopamin muncul dengan cepat,” jelas Ilmi. Sayangnya, jika dalam 24 jam setelah membeli muncul penyesalan, artinya barang tersebut tidak benar-benar menyelesaikan masalah Anda.

2. Racun Social Comparison di Media Sosial

Media sosial memicu budaya pamer (flexing) yang menciptakan standar hidup semu. “Ketika pakai HP lama minder, ketika punya iPhone mulai flexing. Media sosial menciptakan komparasi,” tambah Ilmi.

Strategi Membentengi Diri dari Godaan Masa Depan

Untuk mencegah perilaku konsumtif berulang, Ilmi Hatta menyarankan beberapa trik psikologis praktis berikut:

Gunakan Rumus “Jika – Maka” (If-Then)

Buat aturan tegas pada diri sendiri sebelum godaan itu datang. Metode ini terbukti jauh lebih efektif dibanding sekadar berniat hidup hemat.

  • “Jika ingin membeli barang yang tidak direncanakan, maka saya akan menunggu 48 jam terlebih dahulu.”
  • “Jika ada tawaran pinjol masuk, maka notifikasi langsung dihapus tanpa dibaca.”

Cari Dopamin Alami yang Gratis

Ganti pelampiasan stres dengan aktivitas yang memicu hormon endorfin tanpa menguras dompet. Olahraga adalah cara paling mudah dan murah. Selain itu, Anda bisa menulis jurnal (journaling) atau melakukan muhasabah di malam hari. “Bicaralah dengan diri sendiri. Mau apa saya? Apa kekurangan saya? Sampai menemukan jawabannya,” tutup Ilmi.