SUKABUMI, TINTAHIJAU.com — Di kala jemari kota sibuk meraba saklar, mengeluhkan tarif yang kian mencekik dan kegelapan yang datang bergiliran, di sebuah sudut sunyi pelosok Kabupaten Sukabumi, seorang lelaki tua justru sedang menyesap kopi dengan tenang. Di bawah atap rumah panggung kayu berukir merah-kuning yang asri, ia merayakan kemerdekaan sejatinya. Menikmati limpahan cahaya tanpa selembar pun tagihan yang datang mengetuk pintu.
Namanya Abah Sarnuh. Seorang pria tangguh yang jiwanya sekokoh tebing-tebing bukit tempatnya bernaung. Hampir dua dekade lamanya, ia memilih jalan sunyi: membebaskan diri dari ketergantungan setrum PLN, dan menyandarkan hidupnya pada detak jantung alam.
Kisah magis ini bermula di tahun 2007. Kala itu, binar peradaban modern lewat kabel-kabel PLN mulai merayap di kaki-kaki bukit Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin. Adik-adik Abah sempat mengulurkan harapan, mengajak sang kakak ikut menyambung aliran listrik yang saat itu bertarif Rp 600 ribu.
Namun, takdir menempatkan rumah Abah Sarnuh terisolasi di puncak sunyi. Di atas hamparan batu dan tanjakan ekstrem yang hanya sanggup ditaklukkan oleh deru motor trail. Hitungan matematis pun menjelma menjadi sebuah kemustahilan yang getir:
Jarak Rumah ke Jaringan PLN: 3.200 meter
Kebutuhan Kabel : 32 rol
Total Biaya Pemasangan : Rp 11.200.00
Bagi seorang petani kecil, angka Rp 11,2 juta adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau, fajar yang terlalu tinggi untuk digapai. Ditambah lagi, ada rasa cemas yang menggelayut di dadanya—tentang rumitnya perawatan dan bayang-bayang pencurian kabel di tengah lebatnya hutan yang memisahkan dirinya dari dunia bawah.
“Memang diizinkan kalau sejauh ini dari PLN? Kan tidak diizinkan kalau jauh-jauh kayak gini. Harus beli 32 rol kabel, berarti 3.200 meter,” kenang Abah Sarnuh, suaranya parau beradu dengan desau angin bukit.
Alih-alih menyerah pada kegelapan, Abah Sarnuh memilih memutar otak. Ingatannya melayang pada sebait cerita lama di Desa Cikahuripan tentang seorang guru bernama Pak Guru Darmaji, yang konon mampu memijarkan cahaya dari sebuah dinamo. Sebuah kilatan ide pun menyala di kepalanya.
Merajut Cahaya dari Barang Bekas dan Gemercik Air
Abah Sarnuh membalik takdirnya. Uang sebesar Rp 3,2 juta—sepertiga dari biaya yang diminta PLN—ia bawa berjalan menuju Kota Sukabumi. Bukan untuk membeli ribuan meter kabel, melainkan demi meminang sebuah dinamo kecil, sisa-sisa kabel secukupnya, dan balok-balok kayu.
Secara autodidak, berbekal modal nekat dan bimbingan alam, jemari kasarnya mulai merakit sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sederhana. Di atas aliran sungai yang jernih, ia mendirikan mahakarya dari sebuah kesederhanaan.
- Katrol dari Pelek Sepeda: Kejeniusan Abah mewujud pada sebilah pelek roda sepeda bekas yang disulap menjadi katrol penggerak utama.
- Sabuk Penggerak (Belt): Menghubungkan putaran pelek sepeda ke sebuah dinamo kecil yang bertumpu pada balok-balok kayu tua yang mulai merambut dibalut lumut hijau.
- Sirkulasi Air Alam: Aliran air sungai diarahkan dengan rapi menggunakan pipa paralon hijau-putih serta belahan bambu, menciptakan air terjun mini yang menghantam kincir kayu hingga berputar amat cepat.
Pada masa-masa awalnya, keandalan rakitan tangan Abah Sarnuh ini layaknya sebuah keajaiban. PLTA mini ini sanggup menyulut cahaya konstan di 10 rumah sekaligus, menghidupkan sekitar 70 titik lampu tanpa pernah meredup. Bahkan, kala anak dan cucunya masih mendekap hangat rumah tersebut, hantaman air sungai itu mampu menghidupkan tiga unit televisi hingga mesin pendingin.
Kini, waktu telah bergulir. Anak-anaknya telah bermigrasi ke kampung bawah demi mendekati akses sekolah. Arus listrik itu kini difokuskan untuk menerangi dua petak rumah dan sebuah musala kecil tempat Abah bersujud menghitung syukur di kala malam tiba.
Kemandirian Abah Sarnuh sesungguhnya bukanlah barang baru yang tumbuh kemarin sore. Jiwa petualangnya telah teruji sejak tahun 1998, saat badai krisis moneter mengguncang negeri. Dengan langkah berani, ia menginjakkan kaki di lahan telantar Hak Guna Usaha (HGU) yang kini digarapnya.
Kala itu, jangankan manusia, bayang-bayang pun enggan singgah ke sana. Wilayah tersebut dijauhi warga kampung karena dikenal angker sebagai “gudang maung”—sarang babi hutan dan harimau yang mengerikan.
“Abah nanyain ke orang-orang, siapa yang mau menggarap lahan di situ? Enggak ada yang mau, dikarenakan itu mah gudang maung. Pada takut semua orangnya. Tapi Abah berani lah, daripada menganggur di kampung enggak punya lahan,” selorohnya sembari melempar tawa lepas, mengenang masa mudanya.
Kini, di atas tanah yang dulunya menebar teror, Abah Sarnuh telah memahat surga kecilnya sendiri. Saban hari, tangannya yang legam setia merawat tunas-tunas wortel, daun bawang, dan kucai demi menyambung hidup.
Meski denyut kincir kayu itu masih setia berputar sejak 2007, usia tak dapat berdusta. Komponen-komponen dinamo tua milik Abah kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah hampir dua puluh tahun bergesek dengan waktu. Belakangan ini, pendar lampu di rumah panggungnya kerap berkedip-kedip, seolah mengirim sinyal rindu akan komponen yang baru.
“Ada kendala sekarang mah, kalau dinyalakan ada kedip-kedipan. Sudah sekitar 7 tahun begini karena dinamonya sudah usia, harusnya diganti baru yang lebih bagus,” bisik Abah Sarnuh penuh harap, matanya menatap lurus ke arah dinamo tua yang basah oleh cipratan air.
Di usia senjanya, didekap hangat oleh ketulusan sang istri dan ditenangkan oleh simfoni gemercik air yang tak pernah lelah bernyanyi, Abah Sarnuh telah menunaikan sebuah tugas besar. Ia adalah bukti hidup bahwa keterbatasan geografis dan jerat kemiskinan bukanlah alasan untuk tak berdaya. Di atas bukit sunyi Caringin, ia tidak hanya menyalakan lampu, tetapi juga menyalakan martabat sebagai manusia yang berdaulat penuh di tanahnya sendiri.





