Entertainmen

Drakhma Kembali Bangkit Lewat Sentuhan Teknologi Digital dan Formasi Inti

×

Drakhma Kembali Bangkit Lewat Sentuhan Teknologi Digital dan Formasi Inti

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Drakhma kembali memetik nada baru dalam perjalanan panjangnya di belantika musik Indonesia. Setelah menghidupkan kembali katalog lagu-lagu lawas mereka di berbagai platform digital seperti Spotify dan layanan streaming lainnya, band rock legendaris ini kini tengah menyiapkan sebuah mini album yang menandai babak baru dalam kisah musikal mereka.

Proyek terbaru ini memiliki makna yang sangat istimewa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dapur kreatif Drakhma digerakkan langsung oleh tiga personel asli yang masih aktif, yakni Ricky Basuki (vokal), Gideon Tengker (gitar), dan Dani Mamesah (drum). Bertiga, mereka merangkai komposisi baru dengan tetap menjaga roh dan karakter musik Drakhma yang telah mengakar sejak awal berdiri.

Mini album tersebut akan menghadirkan tiga nomor anyar, yakni “Jumpa Lagi”, “Jangan Ragu”, dan “Dari Hari ke Hari”. Ketiga lagu itu menjadi representasi dari perjalanan, persahabatan, sekaligus kesinambungan kreativitas yang tak pernah benar-benar berhenti berdenyut.

“Jumpa Lagi” merupakan karya Dodo Zakaria dengan lirik yang ditulis Dani Mamesah. Sementara “Jangan Ragu” lahir sepenuhnya dari tangan Dodo Zakaria, dan “Dari Hari ke Hari” menjadi buah kreativitas Ricky Basuki. Setiap lagu membawa warna yang berbeda, namun tetap berada dalam harmoni khas yang selama ini melekat pada nama Drakhma.

Ada cerita emosional yang mengiringi “Jumpa Lagi”. Lagu ini menghadirkan almarhum Dodo Zakaria, salah satu pilar awal Drakhma yang kemudian dikenal luas sebagai maestro musik Indonesia. Karya yang selama ini tersimpan itu akhirnya menemukan panggungnya untuk diperdengarkan kepada publik, sekaligus menjadi penghormatan yang indah atas warisan musikal yang ia tinggalkan.

Pada periode sebelumnya, proses penggarapan materi Drakhma masih melibatkan Dodo Zakaria di belakang tuts keyboard. Saat itu, posisi bass yang biasa diisi Rudy Gagola dipercayakan kepada Yance Manusama, sementara lini ritmis diperkuat oleh Cendy Luntungan dan Rere Reza karena Dani Mamesah tengah berada di luar negeri dan belum dapat mengikuti seluruh proses rekaman secara penuh.

Kini, irama zaman membawa Drakhma pada pendekatan yang berbeda. Materi baru sepenuhnya lahir dari kreativitas Ricky Basuki, Gideon Tengker, dan Dani Mamesah. Kemajuan teknologi digital memungkinkan seluruh proses rekaman dilakukan secara mandiri tanpa keterlibatan khusus pemain keyboard maupun bass. Meski demikian, mereka tetap membuka ruang bagi kolaborasi dengan musisi lain saat energi musik itu kelak dipindahkan ke atas panggung.

Dalam proyek terbaru ini, Drakhma juga kembali merangkul Gilbert Sumendap, nama yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan mereka. Selain pernah menjadi produser pada periode sebelumnya, Gilbert kembali menyumbangkan sentuhan musikalnya dengan mengisi permainan drum pada beberapa lagu dalam mini album tersebut.

Kehadiran Gilbert memberi warna tersendiri pada keseluruhan proses produksi. Bukan sekadar memperkaya aransemen, keterlibatannya juga menjadi simbol kesinambungan persahabatan dan hubungan kreatif yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa meskipun berpijak pada semangat formasi asli, Drakhma tetap membuka pintu bagi sahabat-sahabat musikal yang pernah berjalan bersama mereka.

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga awal 1990-an, Drakhma bukan sekadar sebuah nama band. Mereka adalah soundtrack bagi sebuah generasi—mengiringi kisah cinta, persahabatan, dan romantisme masa muda yang masih lekat dalam ingatan hingga hari ini.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Drakhma kembali hadir bukan hanya untuk membangkitkan nostalgia. Mereka ingin menegaskan bahwa kreativitas tak mengenal usia dan bahwa semangat bermusik akan terus menyala selama masih ada cerita yang ingin dinyanyikan.

Nama Drakhma sendiri diambil dari mata uang kuno Yunani, Drachma, simbol nilai yang mampu bertahan melintasi zaman. Filosofi itu terasa selaras dengan perjalanan musik mereka yang tetap menemukan relevansinya, meski generasi dan tren terus berganti.

Sejak awal kemunculannya, Drakhma memang dikenal sebagai kelompok musik dengan konsep yang berani dan berbeda. Formasi awalnya diperkuat Dani Mamesah (drum), Dodo Zakaria (piano dan keyboard), Gideon Tengker (gitar), Rudy Gagola (bass), serta Ricky Basuki (vokal).

Keistimewaan Drakhma terletak pada keberanian mereka meramu rock dengan sentuhan jazz, pop, R&B, hingga brass section dalam satu harmoni yang utuh. Formasi itu diperkuat Wawan Tagalos atau Wawan Rollies pada trombone dan flute, Chalik di saksofon, serta Eddy pada trompet. Warna vokal mereka semakin kaya dengan dukungan Uce Anwar, Eva Diana Sari, Christine Budiardjo, dan Daisy Maengkom sebagai penyanyi latar.

Perpaduan lintas genre tersebut melahirkan identitas musikal yang khas dan menjadikan Drakhma sebagai salah satu kelompok dengan warna tersendiri di industri musik Indonesia pada masanya.

Sepanjang perjalanan kariernya, Drakhma telah melahirkan sejumlah album penting, mulai dari Hari Esok (1980), Citra Bahagia (1982), hingga Tiada Kusadari (1984). Karya-karya itu masih terus bergema di hati para penikmat musik Indonesia dan menjadi bagian dari memori kolektif lintas generasi.

Kehadiran mini album terbaru ini bukan sekadar menambah daftar diskografi mereka. Lebih dari itu, ia menjadi penanda kesinambungan sebuah perjalanan panjang sekaligus penghormatan bagi para musisi yang telah memberi warna pada sejarah Drakhma, khususnya almarhum Dodo Zakaria dan Rudy Gagola.

Di tengah industri musik yang bergerak cepat mengikuti arus zaman, Drakhma memilih tetap setia pada identitas musikal yang mereka bangun sejak awal. Mereka membuktikan bahwa karya yang lahir dari kejujuran artistik akan selalu menemukan resonansinya di hati pendengar.

Kembalinya Drakhma menjadi penegas bahwa api kreativitas mereka belum padam. Sebaliknya, ia terus menyala, menjembatani generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka dengan generasi baru yang baru mulai mengenal salah satu nama besar dalam sejarah musik Indonesia.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani