Ragam

dr. Dimas Kurnia Hidayat, Menjaga Napas Sejarah Persib Lewat Ratusan Memorabilia

×

dr. Dimas Kurnia Hidayat, Menjaga Napas Sejarah Persib Lewat Ratusan Memorabilia

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Bagi sebagian orang, sepak bola mungkin hanya sebatas drama 90 menit di atas rumput hijau. Namun bagi dr. Dimas Kurnia Hidayat, denyut nadi kecintaannya terhadap Persib Bandung hidup jauh melampaui peluit panjang wasit. Melalui ratusan koleksi berharga yang dirawatnya dengan penuh ketelitian, ia mengabadikan cerita, emosi, dan rekam jejak panjang perjalanan sang Maung Bandung.

Pria kelahiran Bandung, 22 Desember 1995 ini sehari-hari mengabdikan dirinya sebagai dokter di sebuah rumah sakit swasta di Purwakarta. Di sela-sela kesibukan profesinya, Dimas adalah seorang kepala keluarga; ia membangun hidup bersama sang istri, dr. Aulia Rachmawati Ilham, dan telah dikaruniai seorang putra bernama Omara Abdullah Ali Kusumadinata.

Benih Fanatisme di Stadion Siliwangi

Romansa Dimas dengan Persib bermula saat ia masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Kala itu, sekolahnya berdiri tak jauh dari Stadion Siliwangi—panggung sakral yang menjadi markas bersejarah Persib pada masanya.

Momen magis terjadi ketika Persib harus melakoni laga di hari kerja. Dari sudut sekolahnya, Dimas kecil menyaksikan pemandangan yang tak biasa: gelombang lautan Bobotoh menyapu area sekitar stadion. Ribuan sepeda motor terparkir rapat, dan manusia berbondong-bondong datang demi satu nama: Persib Bandung. Fanatisme murni dan loyalitas tanpa batas itulah yang pertama kali menyalakan rasa kagum di hatinya.

“Dari situ saya mulai tertarik dengan Persib. Saya melihat bagaimana besarnya kecintaan orang-orang kepada klub ini,” kenangnya.

Rasa penasaran yang membuncah menuntun langkahnya ke sebuah lapak pinggir jalan di dekat Stadion Siliwangi. Di sana, ia membeli selembar foto skuad Persib yang sederhana. Siapa sangka, foto itulah yang menjadi batu penjuru sekaligus titik awal perjalanan panjangnya sebagai seorang kolektor. Lewat lembaran foto tersebut, Dimas mulai menggali sejarah klub, hingga akhirnya mengenal sosok legendaris seperti almarhum Ayi Beutik. Sejak saat itu, identitasnya sebagai Bobotoh tertanam kuat.

Dari Hobi Menjadi Misi Penyelamatan Sejarah

Pada awalnya, Dimas sekadar mengoleksi jersey replika non-original untuk mengekspresikan dukungannya. Namun, titik balik keimuan koleksinya terjadi pada tahun 2019, tepat saat ia tengah menempuh pendidikan profesi dokter. Dimas memutuskan untuk beralih secara serius ke jalur koleksi original dan memorabilia otentik.

Bagi Dimas, berburu barang antik Persib bukan lagi sekadar memuaskan hasrat hobi, melainkan sebuah misi penyelamatan sejarah agar tidak tergerus zaman.

“Saya ingin menjaga sejarah, menjadi sarana edukasi, sekaligus bentuk dukungan lain kepada Persib Bandung,” tegasnya.

Hingga kini, ruang koleksinya telah menampung sekitar 500 item bersejarah. Menariknya, dari ratusan barang berharga tersebut, foto cetak skuad Persib yang ia beli di masa SD tetap memegang nilai emosional tertinggi.

Secara historis, salah satu mahakarya di lemari koleksinya adalah arsip autentik yang merekam perjalanan Persib saat merengkuh takhta juara di berbagai era lintas generasi:

  • Era Klasik & Perserikatan: 1937, 1961, 1986, 1990, dan 1994
  • Era Modern & Liga Indonesia: 1995, 2014, 2024, 2025, hingga yang terbaru di tahun 2026.

Secara rinci, koleksi literatur dan memorabilia miliknya mencakup:

  • 31 buku referensi dan sejarah sepak bola.
  • 64 helai jersey pertandingan kandang (home) asli dari berbagai musim.
  • 362 media cetak lawas berupa koran, majalah, hingga tabloid olahraga.
  • Berbagai pelengkap dokumen sejarah seperti tiket pertandingan fisik, kaset rekaman, pamflet (flyer) laga, kartu pemain, dan pernak-pernik lainnya.

Untuk menyusun teka-teki sejarah ini, Dimas aktif berburu menyusuri jagat maya, mulai dari memantau media sosial, menjelajahi platform e-commerce, hingga membangun jejaring yang kuat dengan sesama kolektor lintas daerah.

Warisan untuk Masa Depan

Bagi dr. Dimas, deretan lemari koleksinya bukanlah sekadar pajangan mati yang kaku. Setiap sudut kertas yang menguning dan setiap serat kain jersey yang ia simpan memiliki “nyawa”—mereka menyimpan cerita, memori kolektif, dan emosi Bobotoh dari masa ke masa.

“Ini adalah simbol dan penegasan bahwa saya seorang Bobotoh. Selain itu, koleksi-koleksi ini menjadi pengingat berbagai memori dan sejarah yang bisa saya nikmati setiap hari,” ujarnya tersenyum.

Menariknya, Persib juga menjadi gerbang utama yang membuka minat Dimas ke dunia pengarsipan lainnya. Di luar sepak bola, ia juga gemar mengumpulkan prangko (filateli), uang kuno (numismatik), koran tua, memorabilia ambulans dan penyelamatan (rescue), serta berbagai benda yang merekam sejarah Kota Bandung. Namun bagaimanapun, Persib tetap berada di kasta tertinggi dalam hatinya.

Melalui konsistensi dan dedikasinya, dr. Dimas Kurnia Hidayat telah bertransformasi dari sekadar penonton di tribun menjadi penjaga ingatan zaman. Di rak-rak rumahnya, sejarah Maung Bandung tidak pernah mati; ia dirawat dengan cinta, terus hidup, dan siap diwariskan kepada generasi Bobotoh masa depan.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani