SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Bagi sebagian orang, situs milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) mungkin hanya menjadi tempat mencari informasi seputar luar angkasa. Namun bagi Muhammad Wishal, situs dan sistem digital NASA menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus berkontribusi menjaga keamanan siber.
Pria asal Kabupaten Subang ini mengaku proses menemukan 11 celah keamanan di sistem NASA tidak dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, serta pemahaman mendalam mengenai keamanan aplikasi dan situs web.
Sebagai Independent Security Researcher, Wishal memang terbiasa menguji keamanan berbagai sistem digital. Namun, setiap pengujian dilakukan secara legal melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP), program resmi NASA yang membuka kesempatan bagi peneliti keamanan siber di seluruh dunia untuk melaporkan kerentanan sistem.
“Program ini memang dibuat NASA agar peneliti keamanan siber atau hacker etis bisa membantu menemukan celah keamanan pada sistem mereka, kemudian melaporkannya secara bertanggung jawab,” ujar Wishal.
Dalam setiap proses pengujian, Wishal tidak hanya mencari kelemahan sistem. Ia harus memastikan bahwa celah yang ditemukan benar-benar valid, tidak merusak layanan, dan dapat dibuktikan melalui laporan teknis yang lengkap.
Setelah temuan dinyatakan valid, laporan dikirim kepada tim keamanan NASA. Selanjutnya, tim NASA melakukan proses verifikasi sebelum memperbaiki kerentanan tersebut.
Hingga pertengahan 2026, Wishal berhasil menemukan 11 celah keamanan pada sistem NASA. Atas capaian itu, ia berhak memperoleh 11 Hall of Fame dan 11 Letter of Recognition sebagai bentuk apresiasi resmi dari NASA.
“Alhamdulillah saya mendapatkan total 11 bug. Seharusnya nanti akan mendapatkan 11 sertifikat apresiasi NASA. Sekarang baru menerima satu sertifikat,” katanya.
Menurut Wishal, penghargaan tersebut bukan berarti ia “meretas” NASA secara ilegal. Justru sebaliknya, seluruh proses dilakukan sesuai aturan yang telah ditetapkan melalui program VDP.
“Ini adalah apresiasi resmi dari NASA terkait celah keamanan yang kami temukan dengan pelaporan secara legal,” jelasnya.
Bagi lulusan Sarjana Komputer (S.Kom.) asal Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang itu, menemukan bug bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah membantu pemilik sistem memperbaiki kerentanan sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu, setiap laporan yang ia kirim selalu disertai penjelasan teknis mengenai letak kerentanan, tingkat risikonya, hingga rekomendasi perbaikan.
Keahlian Wishal di bidang keamanan siber tidak hanya diakui NASA. Ia juga pernah menerima apresiasi dari sejumlah institusi, seperti U.S. Department of Defense, Pusat Siber TNI Angkatan Darat, Kementerian Pekerjaan Umum, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), sejumlah Dinas Komunikasi dan Informatika di Indonesia, hingga perusahaan media nasional.
Meski telah memperoleh pengakuan dari berbagai lembaga, Wishal mengaku masih terus belajar dan mengembangkan kemampuannya. Baginya, dunia keamanan siber selalu berkembang dan menuntut para peneliti untuk terus meningkatkan pengetahuan.
“Menjadi independent security researcher mengubah cara saya memandang teknologi. Di balik setiap sistem yang kita gunakan, selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki, dan melindungi. Bagi saya, menemukan kerentanan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk membantu menciptakan ekosistem digital yang lebih aman,” tuturnya.
Dari sebuah rumah sederhana di Kabupaten Subang, Muhammad Wishal membuktikan bahwa kemampuan dan dedikasi dapat menembus batas negara. Lewat keahlian di bidang keamanan siber, ia tidak hanya mengharumkan nama daerah, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga keamanan sistem digital salah satu lembaga antariksa paling bergengsi di dunia.





