Pemerintahan

Ingatkan Pengelola SPPG, Bupati Majalengka: Jangan Potong Jatah Anak Demi Keuntungan

×

Ingatkan Pengelola SPPG, Bupati Majalengka: Jangan Potong Jatah Anak Demi Keuntungan

Sebarkan artikel ini

MAJALENGKA, TINTAHIJAU.COM – Bupati Majalengka Eman Suherman melontarkan peringatan keras kepada para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak mengurangi kualitas maupun porsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi mengejar keuntungan.

Menurut Eman, para mitra pemerintah harus mengedepankan tanggung jawab moral dan keikhlasan dalam menjalankan program yang menyasar ribuan anak sekolah setiap hari. Ia menegaskan, keuntungan bagi pengelola telah diatur dalam skema pembiayaan pemerintah sehingga tidak boleh lagi mengambil hak anak-anak.

“Jangan hanya mengejar keuntungan, karena keuntungan itu sudah dikasih berdasarkan aturan yang ada untuk sewa mobil, sewa tempat. Artinya kita enggak usah lagi berorientasi mengejar keuntungan di pengolahan makanannya, tetapi harus ada rasa memiliki dan rasa bangga menjadi mitra pemerintah,” tegas Eman saat meresmikan Bantuan Presiden (Banpres) Sekolah di SMPN 1 Leuwimunding, Senin (13/7/2026).

Bupati mengaku prihatin apabila masih ada oknum pengelola yang memangkas anggaran makanan demi memperoleh laba lebih besar. Menurutnya, tindakan tersebut sama saja mengurangi hak anak-anak yang menjadi penerima manfaat program.

“Bayangkan, anak-anak itu kan orang yang belum punya dosa. Kalau jatahnya dipotong oleh mitra yang tidak punya hati dan keikhlasan, kasihan. Harus punya rasa takut itu. Kalau ini dibangun secara ikhlas dan punya tanggung jawab, bayangkan kebahagiaan yang muncul bisa memberi makan ribuan anak tiap hari,” ujarnya.

Selain mengingatkan para pengelola SPPG, Eman juga mengusulkan agar menu MBG di seluruh Kabupaten Majalengka diseragamkan setiap pekan. Menurutnya, kebijakan tersebut akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pengawasan sekaligus mendorong persaingan sehat antarmitra dalam meningkatkan kualitas makanan.

“Saya sudah memberikan masukan agar menu makanan MBG ini di Majalengka coba diseragamkan. Satu minggu ini apa, minggu depan apa. Biar kita mudah memonitor dan mereka berkompetisi dalam hal kualitas,” katanya.

Ia menjelaskan, apabila seluruh penyedia menyajikan menu yang sama, pemerintah maupun masyarakat akan lebih mudah membandingkan kualitas makanan di setiap sekolah. Dengan begitu, apabila ditemukan perbedaan kualitas atau porsi, evaluasi dapat segera dilakukan.

Berdasarkan hasil evaluasi usai libur sekitar tiga pekan, Eman menyebut Program MBG mendapat respons positif dari para siswa. Dari hasil dialog langsung di lapangan, banyak anak mengaku senang menerima makanan bergizi gratis dan berharap program tersebut terus berlanjut.

Pemkab Majalengka memastikan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG akan terus diperketat melalui monitoring berkala di sekolah-sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas makanan, kebersihan, porsi, dan kandungan gizi tetap sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah.

Sementara itu, pihak sekolah menyambut baik usulan penyeragaman menu. Menurut salah seorang guru di Leuwimunding, kebijakan tersebut akan memudahkan guru dan komite sekolah dalam mengecek kualitas makanan yang diterima siswa setiap hari.

“Jika menu diseragamkan setiap minggunya, proses pengecekan kualitas gizi, kebersihan, dan cita rasa akan menjadi jauh lebih terukur. Guru dan komite sekolah dapat dengan mudah mencocokkan apakah makanan yang dikirimkan oleh pengelola SPPG sudah sesuai dengan standar yang disepakati secara daerah atau belum,” ungkapnya.