JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Fenomena minimnya jumlah peserta didik baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di tanah air mendapat perhatian serius dari parlemen. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mendesak pemerintah untuk segera menganalisis situasi ini secara mendalam. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh pergeseran jumlah penduduk hingga adanya ketimpangan kualitas antarlembaga pendidikan.
Hetifah menjelaskan bahwa isu mengenai sekolah negeri yang hanya mendapatkan satu atau sedikit murid baru telah menjadi fokus perhatian jajarannya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kendala ini tersebar di beberapa wilayah dan bukan merupakan masalah yang terjadi secara merata di tingkat nasional.
Di waktu yang sama, ia menyoroti kontrasnya situasi di mana beberapa sekolah justru dibanjiri oleh calon siswa secara berlebihan. Bagi Hetifah, ketidakseimbangan alokasi murid ini adalah persoalan krusial yang menuntut penanganan mendesak.
Lebih lanjut, legislator tersebut mengidentifikasi bahwa salah satu pemicu utama dari ketimpangan kuantitas siswa ini adalah perbedaan kualitas sekolah. Selain faktor penurunan angka anak usia sekolah akibat perubahan demografi lokal, masyarakat kini cenderung selektif. Orang tua umumnya mengutamakan sekolah yang memiliki fasilitas lebih baik, mutu pembelajaran yang unggul, serta rekam jejak prestasi yang jelas. Selain itu, kompetisi dari lembaga swasta yang menawarkan program atraktif juga turut memengaruhi minat masyarakat.
Merespons masalah ini, Hetifah menegaskan bahwa penyelesaiannya tidak bisa bertumpu pada regulasi penerimaan siswa baru semata. Pemerintah dituntut untuk segera merealisasikan pemerataan standar pendidikan serta membenahi sekolah-sekolah yang sepi peminat melalui evaluasi data kependudukan. Langkah strategis ini dinilai penting agar penataan kuota, sebaran guru, hingga pembangunan sarana pendidikan dapat berjalan tepat sasaran. Komisi X DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal pemenuhan hak setiap anak dalam memperoleh edukasi berkualitas tanpa ada kesenjangan fasilitas.
Potret Minimnya Siswa Baru di Berbagai Daerah
Kondisi sepinya peminat ini terlihat jelas di sejumlah daerah di Pulau Jawa saat tahun ajaran baru dimulai. Di tengah situasi tersebut, pihak sekolah tetap berupaya memberikan sambutan hangat, meski ada pula yang harus menghadapi kenyataan tanpa kehadiran murid baru sama sekali.
- Kota Semarang, Jawa Tengah Di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, tercatat hanya ada tiga siswa baru yang terdaftar. Meskipun jumlah murid sangat minim, sekolah tetap menyemarakkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan menghadirkan maskot badut bertema sirkus. Kepala Sekolah, Hajar Riatiani, menjelaskan bahwa sebenarnya ada lima pendaftar secara daring, namun dua di antaranya tidak melanjutkan proses daftar ulang. Pihak sekolah menegaskan komitmennya untuk selalu menyambut siswa baru dengan meriah tanpa memandang jumlahnya.
- Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah Kondisi serupa terjadi di SDN 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, di mana hanya ada satu siswi baru bernama Khanza yang mendaftar. Pihak sekolah mengaku sempat merasa cemas dengan situasi tersebut. Kendati demikian, Andiyani Mudrikah selaku guru kelas 1 menegaskan bahwa mereka akan tetap berdedikasi penuh untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar secara optimal demi menjaga kepercayaan orang tua siswa.
- Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur Pemandangan berbeda mewarnai hari pertama sekolah di SDN 2 Plandaan. Di saat upacara pagi sedang berlangsung, perhatian guru teralihkan oleh kedatangan seorang anak laki-laki bernama Candra Mohammad Saputra yang diantar oleh kakek dan neneknya secara terlambat. Candra, yang merupakan satu dari dua murid baru di sekolah tersebut, datang dengan pakaian sederhana berupa kaus, celana pendek, dan sandal jepit karena terkendala urusan keluarga di rumah sebelum berangkat. Pihak sekolah tetap menerima kehadirannya dengan tangan terbuka untuk memulai tahun ajaran baru.
Sumber: detikcom





