SUKABUMI, TINTAHIJAU.com — Dari sebuah sudut ruangan sederhana di Kampung Selajambu, Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedas, aroma kopi pekat dan jelaga asap menyatu menjadi saksi lahirnya karya-karya seni unik. Di tempat inilah Nay Sunarya (43), seniman asal Sukabumi, menorehkan kreativitas lewat medium yang tak lazim: kopi dan asap dari api lampu minyak tanah.
Dengan gerakan tangan yang tenang, Nay mengarahkan kobaran api kecil ke selembar kertas. Asap yang menebal membentuk tekstur dan bayang halus, menyusun guratan wajah manusia secara perlahan.
“Karakter asap itu paling sulit, kalau kena gores tangan sedikit aja langsung hilang,” ujarnya sambil terus menatap kertas yang dijepit erat oleh penjepit besi.
Dari Hobi Masa Kecil hingga Menemukan Teknik Unik
Kecintaan Nay terhadap seni tumbuh sejak masa sekolah dasar. Usai lulus SMP, ia memutuskan menekuni dunia lukis, mulai dari airbrush hingga sketsa pensil.
“Dulu belajar dari teman komunitas, ikut pameran, exploring terus. Alhamdulillah akhirnya ketemu teknik kopi dan asap ini,” tuturnya.
Teknik melukis dengan asap mulai ia dalami saat pandemi COVID-19 pada 2020, sementara lukisan kopi telah lebih dulu menjadi bagian dari proses berkaryanya. Medium kopi dipilih bukan hanya karena keunikan warnanya, tetapi juga karena kecintaannya pada minuman tersebut.
“Karena saya pecinta kopi juga, akhirnya saya mengalihkan minat ke kopi di kanvas. Jadi bukan cuma diminum aja,” katanya sembari tertawa kecil.
Melukis Tokoh Nasional hingga Tembus Brasil
Beberapa tahun terakhir, Nay telah melukis sejumlah tokoh nasional, mulai dari akademisi, publik figur, hingga pejabat negara. Karya-karyanya dihargai mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.
Prestasinya bahkan menembus panggung internasional. Dua kali karyanya dipamerkan di Brasil—akhir 2024 dan Oktober 2025—lewat kolaborasi dengan komunitas seniman dari 30 negara. Semua proses tersebut dilalui Nay dengan modal pribadi.
“Biaya kirim karya aja lumayan. Dari pemerintah belum ada dukungan materi. Yang penting karya terus jalan,” ujarnya.
Teknik Rumit, Proses Panjang
Untuk menghasilkan satu lukisan asap berukuran standar, Nay membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Sementara lukisan kopi ukuran 60×80 cm biasanya selesai dalam sepekan. Meski tampil artistik, bahan yang digunakan sangat sederhana: lampu minyak tanah, cutter, akrilik medium, dan ampas kopi Bintoha dari Ciwidey.
Teknik asap yang ia gunakan terinspirasi dari dua seniman Kanada—Steven Spazuk dan John Williams. Namun, Nay harus beradaptasi karena kanvas khusus yang digunakan para seniman tersebut tidak tersedia di Indonesia.
Cita-cita Bangun Galeri Desa
Karya Nay kini dipesan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk oleh sejumlah pejabat. Pemesanan dilakukan melalui media sosial dan komunikasi pribadi.
Meski karyanya terus mengalir, Nay menyimpan harapan besar untuk desanya. Ia ingin setiap desa di Kecamatan Kebonpedas memiliki satu galeri yang bisa menggelar pameran rutin dan menghidupkan atmosfer seni.
“Supaya ada wisatawan datang, anak-anak sekolah juga bisa ikut workshop seni. Seni harus dekat dengan masyarakat,” ujarnya penuh harap.





