Majalengka, TINTAHIJAU.COM – Peringatan Hari Tari Sedunia di Kabupaten Majalengka tahun 2026 berlangsung unik dan sarat makna. Komunitas Hujan Keruh Jatitujuh menggelar pertunjukan tari di atas perahu di Kanal Trip Desa Jatitujuh, Kecamatan Jatitujuh, Rabu (29/4/2026).
Konsep tak biasa ini menghadirkan suasana berbeda. Para penari tampil tidak hanya di darat, tetapi juga di atas perahu yang menyusuri sungai, menciptakan pemandangan langka yang menyedot perhatian warga di sepanjang bantaran kanal.
Ketua Komunitas Hujan Keruh Jatitujuh, Embun, mengatakan peringatan ini bukan sekadar perayaan seni, tetapi juga membawa pesan lingkungan. “Kami memperingati Hari Tari Sedunia tidak hanya di darat. Beberapa penari juga perform di sungai, di atas perahu,” ujarnya.
Menurutnya, pertunjukan di atas air menjadi simbol kampanye kebersihan sungai. Melalui seni, pihaknya ingin mengajak masyarakat menjaga lingkungan, khususnya dari sampah.
“Performance penari di perahu itu juga sekaligus mengingatkan bahwa sungai tanpa sampah itu indah. Jadi, peringatannya dapat, kampanyenya juga dapat,” katanya.
Aksi kepedulian lingkungan ini bukan kali pertama dilakukan. Komunitas Hujan Keruh selama ini rutin menyisipkan pesan serupa dalam berbagai kegiatan, termasuk event tahunan mereka setiap Agustus.
Dalam penyelenggaraan acara, komunitas ini juga menggandeng sejumlah sanggar seni di Majalengka. Kolaborasi tersebut disambut positif oleh para pelaku seni. “Kami ada tempat, teman-teman dari sanggar bagian performance. Ini jadi agenda rutin tahunan kami,” jelas Embun.
Sementara itu, pimpinan Sanggar Sekar Laras, Darto, menilai perkembangan seni tari di Majalengka cukup menjanjikan. Banyaknya sanggar menjadi indikator tingginya minat dan potensi di bidang seni tari.“Seni tari di Majalengka cukup bagus. Ada puluhan sanggar di sini,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menyoroti masih minimnya ruang pertunjukan yang representatif bagi para seniman.“Sanggar sudah banyak, tinggal ruang performance yang perlu menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.
Dalam pertunjukan tersebut, Darto bersama anak didiknya membawakan tarian bertema penculikan Dewi Shinta.
Aksi lima penari dari Sanggar Sekar Laras Desa Bongas Kulon, Kecamatan Sumberjaya, yang tampil luwes di atas perahu, sukses memukau penonton.
Melalui peringatan ini, para pelaku seni berharap seni tari tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media edukasi dan kampanye sosial, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya khas daerah Majalengka.





