Literasi

OPINI: Air Tanah Subang

×

OPINI: Air Tanah Subang

Sebarkan artikel ini

Pengeboran air bawah tanah untuk industri menjadi penyebab yang paling dominan. Rata-rata industri mengebor hingga kedalaman 30 meter hingga 200 meter. Tergantung kebutuhan debit dan kualitas air yang diinginkan.

Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PAGTL) Badan Geologi Kementerian ESDM juga merilis sejumlah daerah dengan cekungan air tanah yang sudah kritis.

Yaitu Bandung, Jakarta, Semarang, Tangerang, Metro, Kota Bumi Lampung, Palangkaraya, Banjarmasin, Ngawi dan Ponorogo.

Beberapa kota atau wilayah di Jabar malah sudah masuk kategori rusak antara lain cekungan air tanah Bandung-Soreang, Bogor, Purwakarta dan Bekasi.

Selain karena faktor penggunaan air bawah tanah skala massif, penggundulan hutan atau berkurangnya daerah respan air di hulu juga menjadi penyebab.

Bagaimana kondisi (CAT) di Subang? Dalam data penelitian Ahmad Komarudin dkk (2016), CAT wilayah Subang dalam rentang 20 meter yang terdalam dan 6 meter yang paling dangkal. Masih normal.

Yang terdalam di wilayah Subang selatan sedangkan yang terdangkal di wilayah Pantura. Wilayah selatan masuk zona akuifer tertekan (unconfined aquifer), bisa didapatkan dengan menggali sumur manual atau sumur pantek dengan kedalaman hingga 20 meter.

Sebaliknya, wilayah utara Subang, merupakan wilayah akuifer semi tertekan. Bisa lebih mudah mendapatkan air. Tapi saat kemarau, air menyusut dan mengerih lebih cepat dibanding wilayah selatan.

Tapi itu data lama, tahun ini situasinya pasti sudah berbeda. Kekeringan panjang dalam dua bulan terakhir mulai terasa dampaknya. Masyarakat di wilayah Subang selatan pun sudah teriak kesulitan air. Sumber dari mata air banyak yang sudah mengering.

Setiap minggu BPBD, PMI, Perumda Tirta Rangga dan sejumlah perusahaan swasta hingga polisi dan TNI selalu mendapat permintaan bantuan air bersih.

Perusahaan pengelolaan air, PDAM terkena imbas kondisi tersebut. Pada umumnya, PDAM mengolah air dari berbagai sumber. Mulai dari mata air, sungai dan sumur dalam.

Anda bisa cari di google, sejumlah PDAM di Indonesia mulai kesulitan melayani pelanggannya. Debit air dari sungai dan mata air berkurang drastis. Malah ada mata air yang mengering.