Megapolitan

Ambisi Boeing dan ITB Mentransformasi Indonesia Menjadi Hub Inovasi Dirgantara Global

×

Ambisi Boeing dan ITB Mentransformasi Indonesia Menjadi Hub Inovasi Dirgantara Global

Sebarkan artikel ini
Kolaborasi ITB dan Boeing | Foto: Dokumentasi ITB

BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Di dunia kedirgantaraan, inovasi sering kali terbentur oleh dinding tinggi antara menara gading akademik dan realitas industri. Namun, sebuah kolaborasi baru saja diresmikan di Bandung yang berjanji akan meruntuhkan sekat tersebut. Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi menggandeng raksasa dirgantara global, Boeing, untuk meluncurkan inisiatif bertajuk Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD).

Ini bukan sekadar kerja sama di atas kertas. BUILD dirancang untuk menjadi mesin pertumbuhan bagi ekosistem startup teknologi di Indonesia, memastikan bahwa ide-ide brilian tidak hanya berakhir sebagai skripsi yang berdebu, melainkan bertransformasi menjadi solusi industri yang aplikatif.

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menekankan bahwa masalah utama pengusaha teknologi lokal adalah akses. Selama ini, inovator muda kita berlayar di lautan lepas tanpa jangkar yang kuat.

“Banyak calon pengusaha teknologi yang tidak langsung terkoneksi dengan industri besar. Boeing sekarang menjadi jangkarnya,” ujar Tatacipta seperti yang dilansir dari laman detikcom (5/5/2026). Dengan Boeing sebagai mentor dan penyedia akses ke ekosistem global, tingkat keberhasilan inovasi dari tahap gagasan hingga ke hilir industri diharapkan akan melonjak tajam.

Langkah strategis ini juga merupakan respons terhadap ketertinggalan rantai pasok Indonesia di Asia. Sebagai perbandingan, Malaysia telah memiliki lebih dari 200 perusahaan yang terintegrasi dengan ekosistem Boeing. Di Indonesia, angkanya masih sangat minim, padahal langit nusantara dipenuhi oleh armada pesawat buatan pabrikan asal Amerika Serikat tersebut. BUILD adalah upaya Boeing untuk membangun “benteng” pendukung operasi bisnisnya langsung dari talenta lokal.

Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menjelaskan bahwa proyek ini telah dimatangkan selama setahun terakhir. Baginya, masa depan penerbangan bukan hanya soal menjual unit pesawat baru, melainkan membangun infrastruktur riset dan pendidikan yang berkelanjutan.

“Semua itu hanya bisa dimulai dengan fokus berinvestasi pada talenta, pada edukasi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics),” tegas Indra.

Melalui skema kompetisi hackathon dan inkubasi, BUILD akan menjaring 50 tim yang terdiri dari mahasiswa tingkat akhir hingga pendiri startup tahap awal. Menariknya, program ini bersifat inklusif—terbuka bagi inovator dari seluruh kampus di Indonesia, bukan hanya internal ITB. Sepuluh finalis terbaik akan disaring hingga menyisakan tiga pemenang yang akan mendapatkan pendanaan serta akses eksklusif ke pusat inovasi ITB.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, M. Fauzan Adziman, menambahkan dimensi strategis lain: kedaulatan material. Program ini didorong untuk memecahkan masalah nyata industri (problem statement), mulai dari sistem avionik, material komposit, hingga pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis kearifan lokal.

Salah satu fokus utamanya adalah hilirisasi nikel. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, diharapkan tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah.

“Nikel ini disebut ‘ningrat’-nya material. Jika kita bisa kembangkan menjadi super alloys untuk komponen pesawat, kita akan menjadi bagian vital dari rantai pasok global dengan nilai tambah yang sangat tinggi,” ungkap Fauzan.

Teknologi dirgantara sering kali dianggap sebagai “akar” dari kemajuan sektor lain. Karena standar keselamatannya yang sangat ketat, inovasi yang lahir di sektor ini biasanya akan menetes ke industri otomotif, energi, hingga logistik.

Dengan diluncurkannya BUILD, Indonesia sedang bersiap melakukan take-off menuju era baru. Jika ekosistem ini berhasil terbentuk, maka masa depan dirgantara Indonesia tidak lagi hanya sekadar menjadi pasar, melainkan menjadi pusat riset dan produksi yang diperhitungkan di kancah dunia.