Megapolitan

Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Berkabung 40 Hari

×

Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Berkabung 40 Hari

Sebarkan artikel ini
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara dalam sebuah pertemuan dengan para guru di Teheran, Iran, Sabtu, 17 Mei 2025. (Sumber: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran via AP)

TEHERAN, TINTAHIJAU.com – Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Media resmi Iran pada Minggu (1/3/2026) melaporkan bahwa Khamenei tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terjadi sehari sebelumnya, Sabtu (28/2).

Dikutip dari Anadolu Agency, pengumuman masa berkabung selama 40 hari disampaikan tak lama setelah kabar kematian Khamenei dikonfirmasi ke publik.

Serangan militer AS-Israel pada Sabtu dilaporkan menyasar sejumlah titik strategis di Iran. Salah satu target utama adalah kediaman sekaligus kantor Khamenei di Teheran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Khamenei gugur saat berada di kantornya ketika serangan berlangsung.

Dalam pernyataannya, dewan tersebut menegaskan bahwa kematian pemimpin tertinggi Iran itu akan menjadi awal dari “perlawanan hebat terhadap tiran dunia”.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan kabar tersebut melalui akun media sosialnya, Truth Social.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat di sejarah, telah tewas,” tulis Trump, Minggu (1/3).

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat tajam setelah perundingan terkait program nuklir Iran mengalami kebuntuan. Serangan gabungan tersebut terjadi usai gagalnya negosiasi nuklir antara kedua negara.

Sebelum perundingan yang berlangsung di Jenewa, Swiss, Trump diketahui telah mengerahkan kapal perang dan berbagai perlengkapan militer ke kawasan Timur Tengah. Ia bahkan sempat memperingatkan akan melancarkan serangan terhadap Iran apabila kesepakatan tidak tercapai.

Situasi ini memicu kekhawatiran global atas potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, menyusul tewasnya figur sentral dalam struktur pemerintahan Republik Islam Iran tersebut.