JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Volatilitas kembali menyelimuti pasar aset kripto. Bitcoin tercatat kembali melemah dan untuk dua hari berturut-turut bergerak di bawah level psikologis US$73.000. Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi tajam sepanjang pekan terakhir, di mana harga bitcoin telah terkoreksi hampir 18 persen sejak pertengahan Januari 2026.
Pada perdagangan Rabu (4/2) waktu Amerika Serikat, harga bitcoin sempat menyentuh titik terendah harian di kisaran US$72.000 sekitar pukul 12.40 EST, setelah sebelumnya berada di level puncak US$76.300. Penurunan intraday tersebut mencapai sekitar 3 persen dan terjadi seiring melemahnya indeks saham berbasis teknologi Nasdaq yang tergerus lebih dari 2 persen.
Dampak koreksi harga ini turut menyeret kapitalisasi pasar bitcoin hingga turun ke kisaran US$1,45 triliun. Sejak mencapai rekor tertinggi tahunannya di level US$97.500 pada 15 Januari lalu, nilai pasar bitcoin telah terpangkas sekitar US$500 miliar atau setara lebih dari Rp7.800 triliun.
Tekanan jual yang meningkat juga memicu gelombang likuidasi di pasar derivatif. Dalam empat jam pada 4 Februari, posisi beli (long) senilai sekitar US$125 juta terhapus. Secara kumulatif, likuidasi selama 24 jam terakhir melampaui US$830 juta, dengan mayoritas kerugian dialami oleh pelaku pasar yang berspekulasi pada kenaikan harga.
Arus keluar dana dari exchange-traded fund (ETF) bitcoin spot turut memperburuk sentimen. Tercatat sekitar US$272 juta dana keluar dari instrumen tersebut di tengah pelemahan pasar. Kondisi ini terjadi meski terdapat kabar positif dari ranah regulasi, termasuk rencana pembahasan CLARITY Act di Senat AS serta keberhasilan DPR AS menyetujui penghentian penutupan sebagian pemerintahan. Namun, kedua sentimen tersebut belum mampu mendorong minat risiko investor.

Tekanan Saham Teknologi Ikut Membebani
Tekanan terhadap bitcoin juga tak lepas dari gejolak di pasar saham global, khususnya sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Saham-saham utama semikonduktor mencatat penurunan tajam, dipimpin Advanced Micro Devices (AMD) yang anjlok lebih dari 16 persen setelah merilis proyeksi kinerja yang konservatif.
Saham Nvidia turun sekitar 4 persen, Broadcom melemah 7 persen, sementara Intel terkoreksi 3,5 persen. Penurunan ini membebani Nasdaq secara keseluruhan, meski indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencatat pelemahan yang relatif lebih terbatas.
Korelasi kuat antara bitcoin dan Nasdaq kembali menegaskan pandangan bahwa aset kripto terbesar tersebut saat ini bergerak menyerupai saham teknologi berisiko tinggi, alih-alih berfungsi sebagai aset lindung nilai seperti emas. Jarak pergerakan bitcoin dengan logam mulia pun kian melebar.
Di sisi lain, efektivitas pembelian bitcoin oleh perusahaan Strategy juga mulai dipertanyakan. Sejak mengubah skema pendanaan akuisisinya, pembelian rutin perusahaan tersebut dinilai tak lagi memberikan dorongan signifikan bagi harga pasar.
Kritik pun bermunculan. Tokoh pasar keuangan AS, Jim Cramer, secara terbuka meminta Ketua Strategy Michael Saylor untuk meninjau ulang strategi pendanaan agresif perusahaan.
“Pesan untuk Michael Saylor, kami menilai US$73.802 adalah batas harga bitcoin saat ini. Sudah waktunya mempertimbangkan konversi zero-coupon dan menghentikan tekanan ini,” tulis Cramer melalui media sosial X.
Meski demikian, analis menilai posisi keuangan Strategy masih relatif aman. Kendati harga bitcoin kini berada di bawah biaya rata-rata kepemilikan 713.502 BTC milik perusahaan, cadangan kas yang besar dinilai cukup untuk meredam risiko volatilitas ekstrem dalam jangka pendek.
Sementara itu, pelaku pasar masih mencermati pergerakan harga bitcoin di area US$75.000. Level tersebut dipandang sebagai titik krusial yang dapat menentukan arah sentimen selanjutnya. Bertahan di atas zona tersebut berpotensi menenangkan pasar, sedangkan kegagalan mempertahankannya bisa kembali menyeret bitcoin ke fase defensif.
Sumber: BitcoinNews





